MENOLAK YANG SAKRAL

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas menyelenggarakan acara “Diskusi Kopi Sakarek” di lesehan Balairuang FIB Unand, (Kamis 06/11/2014)[...]

Refleksi Hari Pahlawan (Liputan Padang TV)

Perayaan Hari Pahlawan selama ini sebatas agenda tahunan berbagai instansi, baik pemerintah maupun pendidikan, tanpa menyentuh esensi dari nilai-nilai kepahlawanan itu sendiri[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Saturday, June 11, 2016

Teater Langkah Hendak Melangkah Kemana? (Catatan Untuk Memperingati 29 Tahun Teater Langkah)



Oleh: Fariq Alfaruqi*

Dua puluh sembilan tahun eksis dalam dinamika seni pertunjukan, menobatkan Tetaer Langkah sebagai kelompok teater kampus paling tua di Sumatra Barat, yang sampai saat ini masih bertahan, berkiprah, dan terus berproduksi: Mementaskan pertunjukan, menyelenggarakan agenda teater, menerbitkan naskah drama, dan yang terpenting, melahirkan orang-orang yang dikemudian hari menjadi tokoh-tokoh teater Sumatra Barat. Prel T, Yusril, Sahrul N, S Metron M, maupun Pinto Anugrah, merupakan orang-orang yang mengenal dunia tetater melalui Teater Langkah yang kemudian memilih seni pertunjukan tersebut sebagai jalan hidup mereka, baik sebagai sutradara, penulis naskah, maupun akademisi dan kritikus seni pertunjukan.
Hari ulang tahun yang ke-29 yang jatuh pada kamis 26 Mei 2016 lalu, para anggota aktif Tetater Langkah menggelar dua pertunjukan untuk memeringatinya. Pementasan berjudul Bandara dari Ranah PAC menjadi pertunjukan pembuka. Sebelumnya, pementasan tersebut baru-baru ini ditampilkan dalam agenda Festival Teater Remaja se-Indonesia. Sebagaimana judulnya, pementasan yang disutradarai oleh S Metron M itu mencoba merepresentasikan bandara ke atas panggung sebagai latar dan problematika pertunjukan. Beberapa buah troli dijadikan properti sekaligus sebagai penanda untuk merujuk pada realitas, selebihnya panggung dibiarkan kosong tanpa setting, meleluasakan belasan orang aktor yang berlaku sebagai penumpang dan petugas bandara keluar-masuk panggung dengan tempo cepat, selayaknya intensitas kesibukan pada sebuah bandara.
Dalam pementasan tersebut, tidak ada pengkategorian aktor utama, aktor tambahan, atau aktor figuran, tidak ada konflik protagonis-antagonis, juga tidak ada motif-motif teguh dan terpendam seorang tokoh yang memengaruhi jalannya pertunjukan. Yang ada adalah aktor-aktor yang berganti peran, menunjukkan kedatangan dan kepergian pada sebuah bandara; lelaku aktor yang kondisional, dibentuk dan ditentukan oleh ruang sosial; karakter dan sikap aktor yang cair, agar terus bermutasi sebagai respon terhadap konflik. Yang ingin diperlihatkan oleh pementasan tersebut adalah, bandara sebagai etalase perilaku manusia. Sebuah ruang publik yang memamerkan kebanalan dan kesementaraan masyarakat.
 Pementasan kedua berjudul Matrilini naskah Wisran Hadi, disutradarai oleh Syanti Mustika. Bercerita tentang datuk yang bebal dan kemenakan yang binal. Sang datuk, bagaimana pun kondisinya berkeras ingin menikahkan kemenakannya, Matrilini, dengan seorang pemuda kaya bernama Merahsilu. Berbagai cara ia gunakan agar pernikahan tersebut terealisasi: mengatasnamakan adat, menggadaikan tanah, serta menutup mata pada kondisi kemenakannya yang telah hamil dengan lelaki lain. Sementara Matrilini mudah saja melepaskan keperawanannya setelah pesta pantai dengan seorang sopir. Melalui dialog-dialog satir, naskah tersebut menyentil para pemangku adat di Minangkabau, yang demi kehormatan, melakukan segala cara.
Satu set pelaminan berwarna merah-emas lengkap dengan semeja hidangan ala Minang dihadirkan di atas panggung. Pertengahan adegan, set berganti menjadi bagian depan Rumah Gadang yang dibuat sedemikian rupa. Setiap pergantian adegan, kostum para aktor diganti menandakan pergantian waktu. Hal ini pada satu sisi tentu saja bertujuan untuk semakin mendekatkan pementasan dengan realitas yang ingin diungkapkannya. Namun, pada sisi lain, set panggung dengan ukuran besar dan warna yang mencolok tersebut justru ‘menenggelamkan’ aktor yang hanya berjumlah sedikit, selain itu sutradara luput untuk memerhatikan efisiensi dari penggunaan set panggung tersebut. Pergantian set panggung pada pertengahan babak memakan waktu yang terlalu lama, membiarkan penonton menatap panggung yang gelap dan mendengar riuh kesibukan kru panggung sedang bekerja.
Hanya dua pementasan itu yang menjadi penanda, bahwa kelompok teater kampus yang telah bertahan selama dua puluh sembilan tahun itu masih berproduksi dan berkarya. Sangat disayangkan bahwa dalam agenda hari peringatan tersebut tidak ada diskusi, orasi, maupun perenungan untuk melihat di mana posisi dan peran Teater Langkah hari ini, atau, apa yang telah dilakukan oleh Teater Langkah selama tahun-tahun keberadaannya itu.
Kilas Balik
Pada tanggal 26 Mei 1987, sekelompok mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas, yaitu, Prel T, Irmansyah, dan Yusriwal (alm), mendirikan sebuah wadah untuk menunjang gagasan-gagasan, ide-ide kreatif, serta pemikiran-pemikiran kritis mereka mengenai dunia seni pertunjukan, yang kemudian mereka beri nama Teater Langkah. Tujuan utama didirikannya kelompok teater ini adalah “untuk menciptakan iklim berteater yang kritis, tidak hanya dalam lingkungan kampus saja, tapi dalam dinamika teater Sumatra Barat,” ucap Prel T, pendiri Teater Langkah, yang saat ini menjadi dosen di Fakkultas Ilmu Budaya dan masih bertahan mengasuh semangat berteater di kampus.    
Terhitung semenjak dua puluh sembilan tahun yang lalu itu Teater Langkah terus berproduksi, tentu penonton, aktivis, maupun pemerhati Teater di Sumatra Barat sudah layak mempertanyakan, apa yang telah diberikan Teater Langkah kepada masyarakat, atau apa sumbangsih Teater Langkah terhadap dinamika seni pertunjukan di Sumatra Barat? Jika pencarian-pencarian estetis atau pementasan-pementasan monumental merupakan satu-satunya indikator untuk melihat capaian sebuah kelompok teater, tentu akan sulit bagi Teater Langkah untuk menjawabnya. “Selama masa kuliah, seorang anggota Teater Langkah hanya mungkin mementaskan paling banyak tiga garapan. Dalam waktu yang singkat itu, sulit rasanya bagi seorang pekerja teater untuk menemukan estetikanya sendiri dalam menggarap sebuah pertunjukan,” papar Yusril, alumni Teater Langkah yang pada bulan ini baru saja menyelesaikan program doktoralnya dalam bidang penciptaan karya.
Sebagai teater kampus, persoalan utama yang dihadapi oleh Teater Langkah memang berkisar pada keberadaan para personil atau anggota yang tidak tetap itu. Setiap periode, anggota-anggota baru, aktivis-aktivis teater baru, atau aktor dan sutradara baru muncul seiring dengan perginya anggota, aktivis teater, maupun aktor dan sutradara yang lama. Menurut Pinto Anugrah, mantan ketua Teater Langkah periode 2006-2008, yang saat ini masih terus menghasilkan naskah dan menyutradarai pertunjukan,“dalam waktu yang realtif singkat, yang mesti dikejar oleh seorang anggota teater kampus, khususnya Teater Langkah adalah membangun militansi dalam berkarya, semangat tersebut hanya bisa didapatkan apabila seorang pekerja teater mengetahui apa itu teater dan kenapa ia mesti berteater.” Senada dengan itu, Yusril juga menyatakan bahwa, “mempercayai bahwa teater merupakan sarana perubahan, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat, merupakan modal penting bagi seorang pekerja teater untuk konsisten dalam berkarya.”
Meskipun untuk melahirkan pementasan-pementasan monumental dan untuk mengejar capaian-capaian estetis dalam berkarya merupakan hal yang sulit terwujud bagi sebuah teater kampus, setidaknya ada ruang-ruang lain yang bisa diisi oleh Teater Langkah. Yaitu, menurut istilah Yusril, sebagai “Laboratorium, bagi para anak muda untuk bereksperimen dalam garapan-garapannya.” Senada dengan itu, S Metron M, yang juga merupakan alumni Teater Langkah yang masih berkiprah dalam dunia Teater, menyatakan bahwa Teater Langkah harus tetap pada posisi dan perannya “sebagai salah satu episentrum dengan tetap mempertahankan tradisi yang telah dibangun bertahun-tahun: berusaha memainkan naskah sendiri, atau, minimal naskah yang berasal dari Minangkabau.”
Posisi dan peran tersebut pada masa lalu telah pernah diambil oleh Teater Langkah. “Kami pernah bertindak gila dalam berteater, mementaskan pertunjukan-pertunjukan eksperimental atau menggagas dan menyelenggarakan agenda berskala besar dengan modal semangat, seperti Pertemuan Teater Mahasiswa (PTM) se-Indonesia,” ungkap Prel T. Sementara itu, Yusril juga menceritakan bagaimana “keberadaan dosen-dosen, ditambah kehadiran Wisran Hadi pada masa itu menciptakan iklim yang dialektis bagi para mahasiswa.

*) Penonton Teater dan Mahasiswa Sastra Indonesia

-Tulisan ini sebelumnya dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres pada 5 Juni 2016

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Wednesday, December 23, 2015

Kritik Pementasan: Catatan untuk Tiga Pertunjukan Teater Langkah FIB Unand


Salah-satu adegan dalam pementasan naskah Cipoa

Selama dua hari berturut-turut (15-16 Desember 2015) 'anak-anak Langkah' menampilkan tiga pertunjukan teater dalam rangka Open Recruitment anggota baru. Tiga pertunjukan tersebut membawakan naskah 'Jam Dinding yang Berdetak' karya Nano Riantiarno, 'Perempuan dalam Keranda Kaca' naskah karya Elly Delfia, dan yang terakhir ‘Cipoa naskah karya Putu Wijaya. Ketiga naskah tersebut, sebagaimana yang telah kita ketahui, memang karya yang tidak asing lagi di tengah masyarakat teater kita. Meskipun terkendala hujan, juru pawang yang diminta untuk “menghentikan hujan” mampu bekerja dengan baik sehingga hujan yang semula lebat lekas mereda. Inilah uniknya sebuah pertunjukan di ranah Minang yang kita cintai ini. Unsur-unsur magis tidak pernah ketinggalan dalam setiap alek yang digelar.
Pertunjukan pertama mementaskan naskah fenomenal 'Jam Dinding yang Berdetak' karya Nano Riantiarno. Interpretasi terhadap naskah dilakukan cukup baik oleh sutradara. Ia menggubah narasi kompleks yang ditawarkan Nano dengan menampilkan peristiwa-peristiwa penting saja di atas panggung. Lewat gubahan sutradara, realitas sosial rumah tangga miskin dan dengan sekelumit kehidupan mereka dihadirkan dengan gurih dan dapat ditangkap dengan baik oleh para penonton. Unsur-unsur parodi yang dibangun renyah dan nikmat disantap. Sehingga riuh tawa para penonton disampaikan dengan cara yang lepas tanpa kesan dibuat-buat.
Para aktor yang bermain cukup terampil dalam bermain. Tidak tampak adanya tekanan batin saat membawakan karakter tokoh yang sedang diperankan. Meskipun mereka dapat dibilang “baru berteater namun upaya untuk bermain lepas tanpa tekanan terasa cukup maksimal. Ini terlihat dari dialog-dialog yang berkolaborasi dengan ekspresi para pemain terasa hidup dan mampu mendukung suasana yang dibangun.
Sutradara sepetinya sadar bahwa pemain yang diolah adalah orang yang baru saja masuk dalam dunia teater. Sehingga mereka diberikan kebebasan dalam berakting dengan menempatkan karakter diri mereka sendiri dalam permainan. Ini tampak dari penjiwaan karakter masing-masing pemain yang terkesan seperti terbawa kebiasaan sehari-hari. Sublimasi yang terjadi tidak memberi kesan adanya kelonggaran-kelonggaran dalam menjiwai peran. Hal itu ditutupi dengan interaksi antar pemain yang tampak natural dan seolah-olah nyata.
Tentu masih ada kekurangan dalam pertunjukan ini. Ada sejumlah adegan / fragmen yang lost control, dialog yang sekali-sekali timpang, logat sehari-hari yang terbawa-bawa di luar konteks peristiwa dalam pertunjukan, dan artikulasi atau olah lisan yang tidak jelas. Selain itu, tampak juga beberapa pemain yang sempat kehilangan tempo permainan dan tampak kebingungan. Hanya saja, hal ini kemudian ditutupi oleh pemain lain yang (sepertinya) sadar kalau lawan mainnya sedang lepas kendali. Dan mereka lekas melakukanm penambalan sampai akhirnya lawan main tersebut masuk kembali dalam konteks permainan.
Tentu hal-hal seperti ini penting untuk ditilik dan diperbaiki sebab penonton ingin menikmati pertunjukan yang "bersih" dari kendala teknis begitu. Kacamata penonton tidak pernah mempedulikan apakah pemain sedang sakit, belum makan, kurang bergairah, dan seterusnya. Penonton hanya tahu bahwa ini sebuah pertunjukan dan semestinya begini, begini dan begini.
Selain persoalan yang telah disebutkan di atas, artistik yang ditampilkan mampu mendudukkan suasana di atas panggung dan dapat ditangkap oleh penonton. Dinding rumah yang terbuat dari seng-seng bolong mendukung kondisi ekonomi keluarga yang sedang ditampilkan: keluarga miskin! Properti seperti meja, kue ulang tahun, dan botol minuman beralkohol yang digunakan pun dapat dimaksimalkan dengan baik. Dan menariknya di sini, pemanfaatan terhadap botol minuman tersebut tidak latah sebagaimana pertunjukan atau film-film yang bermotif sama. Ia hanya dipergunakan sebagai botol minuman beralkohol itu sendiri dengan mabuk yang biasa. Tidak ada upaya membuat-buat. Selebihnya dimanfaatkan dengan cara yang wajar.
Musik yang dihadirkan mampu mendukung latar waktu peristiwa terjadi. Pencatutan lagu tempo doeloe, dan cuplikan-cuplikan musik yang dibunyikan dari piano tiup itu, seolah-olah mengarahkan ingatan penonton ke tahun 80-an, dimana kondisi ekonomi pada saat itu sedang dalam masa yang sesak. Pergolakan politik yang panas, kebencian-kebencian yang pekat kepada pemerintah, serta rasa tidak percaya yang tinggi akan adanya hidup yang lebih baik, seolah-olah dimaksudkan untuk ikut hadir ke atas panggung sebagai efek atau imaji lain dari misi utama kehadiran pertunjukan ini.
Dalam hal ini sutradara sepertinya sangat sadar akan dibawa ke mana naskah karya Nano tersebut dan ia memutuskan untuk menghadirkan senatural dan serenyah mungkin supaya dapat dinikmati oleh penonton, baik yang awam ataupun yang sudah khatam kitab kuning “agama” teater.
Pada pementasan kedua penonton disugiuhi pertunjukan dengan naskah 'Perempuan dalam Keranda Kaca' karya Elly Delfia. Naskah ini cukup unik secara cerita karena menampilkan peran dan tugas perempuan dalam tradisi. Bahwa perempuan memiliki peran yang penting dalam tradisi (Minangkabau, sebegaimana konteks cerita) dan tidak hanya sebagai “pelayan” laki-laki. Sense tradisi begitu kental dan memokus dalam naskah ini, meskipun bila ditilik secara seksama akan terasa ada imaji yang akrab dengan kehidupan pasca-tradisi.
Kekuatan tersebut mesti berbanding lurus dengan kemampuan interpretasi sutradara. Kepiawaian sutradara dalam mendudukkan konsep dituntut agar gagasan utama cerita dapat tersampaikan dengan baik dan tidak monoton. Meskipun yang menggarap naskah laki-laki, tetap saja ia harus pandai menempatkan “ego”-nya bersisian dengan muatan naskah. Tidak ada kata kompromi terhadap hal itu bila ingin pertunjukannya berhasil.
Nah, dalam konteks ini, sepertinya sutradara tidak mampu mengolah naskah dengan baik sehingga tidak ada spektakel-spektakel yang dapat membuat penonton terkesima. Sutradara tidak menawarkan konsep yang jelas agar penonton dapat menangkap apa tujuan dari naskah ini dipertunjukan. Ketertarikan sutradara terhadap naskah dan kemudian memilih untuk mempertunjukkannya tidak mampu membawa penonton masuk ke dalam dan terlibat memahami narasi yang ditawarkan. Sehingga pertunjukan terkesan seperti konser kolaborasi antar pemain perihal dialog-dialog yang telah mereka hapal.
Ketidakberhasilan sutradara dalam mengonsep naskah ini kemudian berdampak pada penjiwaan para aktor dalam memainkan karakter yang dibebankan kepada mereka. Karakter tidak hidup dan seolah-olah hanya menjadi batu yang berada di pundak. Aktor terkesan berdiri di atas kaki mereka sendiri tanpa adanya bangunan interaksi yang baik sehingga tidak membuat penonton merasa kalau mereka sedang berperan. Tidak ada kerja kolektif agar pertunjukan ini dapat dirasakan sebagai sebuah pertunjukan menghancurkan distrik wacana yang sempat menghampiri pikiran penonoton dengan penghadiran konteks tradisi di dalamnya. Dan kehancuran tersebut diperemuk dengan gelagat masing-masing aktor yang terlihat autis terhadap diri sendiri dan kemudian menjatuhkan peran lawan main.
Kegagalan ini memang bersumber dari kerja sang sutradara. Sutradara adalah orang yang bertanggung jawab atas hadirnya sebuah pertunjukan. Kecelakaan pemaknaan yang diterima pemain adalah berpangkal dari sutradara. Karena dia adalah pengonsep utama, yang tentu saja orang pertama dalam sebuah pertunjukan. Tanpa dirinya, sebuah pertunjukan tidak akan hadir. Sutradara yang baik semestinya mampu menjadikan seseorang sebagai aktor bagaimanapun kondisi dan kekurangannya. Ketidakberhasilan sutradara mentransfer hasil pendalamannya terhadap naskah kepada para pemain adalah mimpi buruk dan kegagalan dalam kerja perteateran. Kelak ia hanya akan menjadi sutradara yang hanya berhasil mengenang-ngenang ketertarikannya dalam kepala.
Selain itu, panggung yang dihadirkan minim dari kehadiran properti. Yang ada hanya trap, yang difungsikan sebagai tempat duduk aktor. Dan dua tingkat anak tangga, yang sepertinya disimbolkan sebagai, hmhm, jenjang naik ke atas rumah gadang. Tidak tampak adanya upaya-upaya lain yang bertujuan khusus dan bersifat idiologis untuk menjelaskan, katakanlah, perbedaaan status sosial antar masing-masing karakter tokoh yang diperankan sementara naskah meminta demikian. Penguatan-penguatan terhadap permasalahan dan penyelesaian inti cerita pun jauh badan dari bayang-bayang. Dan juga tidak ada capaian lain, atau gebrakan baru, yang dapat dimaknai sebagai pemberontakan terhadap naskah yang mendefinisikan pertunjukan. Kita para penonton disuruh mereka-reka sejauh apa matahari yang tampak di ujung lautan. Artinya, naskah bisa dibilang tidak dipahami dengan baik.
Kekurangan-kekurangan seperti yang disampaikan di atas membuat realitas yang dihadirkan ke atas panggung menjadi tidak jelas. Latar waktu, tempat dan di mana peristiwa terjadi sesungguhnya sangat sulit untuk dilacak. Bahkan untuk mengira-ngira pun penonton tidak memiliki daya. Sehingga akhirnya pementasan ini pun jadi diam di tempat dan tanpa menawarkan apa-apa.
Memang. Memang ada upaya sutradara ingin mendudukkan persoalan latar waktu tersebut dengan menjelaskannya pada kostum para pemain. Setiap pemain menggunakan pakaian tradisi masyarakat Minangkabau. Hanya saja penghadiran kostum ini menjadi hambar dan malah semakin menampakkan ketidakmampuan sutradara dalam membangun konsep. Penggunaan instrumen tradisi tersebut hanya menjadi pembacaan latah sutradara terhadap naskah. Mentang-mentang naskah bercerita tentang Minangkabau zaman saisuak lalu pemain dengan sebegitu bebasnya diberi konstum tradisi tanpa adanya pertimbangan lain. Cara seperti ini tidak fair dilanjutkan mengingat wacana yang terdapat dalam naskah tidak akan sampai.
Tentu saja tidak semuanya buruk. Seburuk-buruknya pementasan tentu ada hal baik di dalamnya meskipun hanya sebesar biji zarah. Misalnya adanya upaya beberapa orang aktor untuk menampilkan kemampuan dasar keaktoran yang mereka miliki. Adanya beberapa aktor yang berupaya keluar jalur dari yang ditetapkan sutradara. Misalnya, membuat lelucon dengan menggunakan karakter asli si aktor sehingga membuat para penonton tertawa.
Hal ini bisa tercapai berkat adanya kedekatan emosional sang aktor dengan para penonton. Interaksi sosial sang aktor dalam keseharian membuat penonton dapat menikmati pertunjukan dengan membawa ingatan ke dalam gaya hidup mereka sehari-hari. Cuma, lelucon seperti ini tidak baik dipertahankan mengingat tidak semua penonton memiliki kedekatan emosional dengan para pemain. Pertunjukan seperti ini hanya akan sukses di dalam kandang, namun tidak di atas arena yang sesungguhnya.


Salah-satu adegan pementasan Perempuan dalam Keranda Kaca

Pada hari kedua, yakni pementasan ketiga, pertunjukan menampilkan naskah Cipoa karya Putu Wijaya. Naskah ini sejatinya bukanlah barang baru bagi penikmat teater di Indonesia karena ditulis oleh seorang sutradara kenamaan dan kerap kali dipentaskan. Pertunjukan ini pun berlangsung dengan baik dan dengan berbagai kejutan di dalamnya.
Kejutan ini tampak dari berbagai aspek. Salah satunya, artistik panggung. Artistik yang dibangun mampu membuat penonton hadir ke dalam realitas pertunjukan dan latar dimana peristiwa dimaksudkan hadir. Tingkah-polah para pemain yang kocak dan mahir membuat lelucon di sela-sela ruwetnya permasalahan yang hadir membuat pertunjukan terasa hidup dan hikmat. Sehingga ruang kosong yang fatal dan perlu untuk dilakukan perbaikan tidak terlihat. 
Dalam tataran ini, sutradara sepertinya cukup paham akan naskah dan tahu jalur mana yang mesti ditempuh agar apa yang dipahaminya sampai ke benak “jahat” pada penonton. Tak terasa adanya tumpang-tindih anatr peristiwa yang dihadirkan. Semuanya berjalan dengan runut sesuai dengan penceritaan. Sutradara mampu mengonsep naskah dan mendistribusikannya kepada para pemain. Buah dari kerja tersebut tentu sangat layak diberi tepuk tangan meriah.

 Salah-satu adegan Cipoa
Tentu ada beberapa kesalahan kecil yang dapat dinilai sebagai kelalaian aktor. Seperti, aktor belum terlalu mahir dalam berperan sedikit keluar dari jalur untuk menjahit hal-hal kecil yang berpotensi mengacaukan kenikmatan penonton luput dari permainan. Beberapa kali terlihat kecolongan dalam pemanfaatan property yang tidak sesuai dengan konteks dan juga eksplorasi semu yang tidak berpengaruh apa-apa. Dan yang cukup fatal ialah kelupaan terhadap penggunaan property sehingga property yang semstinya penting malah terjatuh begitu saja ke lantai. Ini cukup fatal dalam sebuah pertunjukan sebab penonton tentu akan berpikir panjang mengenai properti penting yang jatuh tersebut. Sebab mereka akan fokus “melihat” ke arah sana.
Agar hal ini bisa terhindar, kerja kolektif antar pemain untuk saling mengingatkan benar-benar diharapkan agar kecolongan dapat dihindari. Kerja kolektif ini dapat dilakukan dengan cara berimprovisasi. Improvisasi membutuhkan pengalaman panggung yang panjang dan olah kerja kolektif yang lama pula. Pelatihan yang dapat membangun rasa antar pemain merupakan solusi yang paling tepat untuk dapat menutupi celah tersebut.
Memang benar, sepandai-pandainya seorang sutradara dalam mengonsep cerita bila tanpa didukung oleh aktor yang mampu menerapkan konsep tersebut di atas panggung tetaplah pertunjukan yang hadir akan terasa timpang. Aktor merupakan salah satu dari beberapa hal penting lainnya dalam sebuah pertunjukan. Kekacauan aktor akan memgacaukan cara pandang para penonton.
Demikianlah catatan terhadap tiga pementasan yang diadakan oleh teater langkah selama dua hari (15-16 Desember 2015) yang lalu. Ketiga pertunjukan dapatlah dianggap sebagai pertunjukan yang berawal dari proses pembelajaran. Dengan modal pengalaman panggung yang sebagaian besar perdana, dan dengan latar belakang penyutradaraan yang perdana pula, dapatlah dikatakan mereka telah menampilkan hasil yang terbaik selama pergulatan mereka dalam “kubangan” teater.
Layak kiranya untuk diberi tepuk tangan meriah karena mereka telah berhasil membuat penonton yang terdiri dari tamu undangan alias penggiat teater, penonton umum atau awam, dan juga beberapa orang dosen penggiat teater yang turut hadir, untuk tertawa terpingkal-pingkal sehingga memberikan hiburan yang berarti di dua malam yang dingin itu.(*)



Dok. Iqbal



*Kritik Pementasan ini ditulis oleh Ramoun Apta, Penyair dan alumni jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Tuesday, June 9, 2015

LOMBA BACA PUISI TINGKAT SMA SE-KOTA PADANG

Foto: Youma (SMAN 5 Padang) tengah membacakan puisi

Jumat (29/05/2015), gelanggang Medan Nan Balinduang FIB UNAND disesaki suara-suara orang membaca puisi. Mahasiswa, dosen, dan siswa-siswi dari beberapa SMA di kota Padang, dengan kesenduan masing-masing, bergiliran membacakan puisi waktu itu. Sederet judul-judul puisi dilantangkan ke udara, mulai dari gubahan Muchtar Lubis, Sapardi Djoko Darmono, Sutardji, hingga sekelumit penyair yang tidak begitu akrab terdengar namanya di jagad perpuisian Indonesia. Kurang lebih 40 audiens, hadir di sekeliling gelanggang.
Begitulah suasananya, pada Lomba Baca Puisi Tingkat SMA se-Kota Padang yang diadakan kawan-kawan Sasindo angkatan 2014. Lomba yang digagas atas tuntutan praktik mata kuliah. Lomba yang dikuratori oleh Ibu Soneza Ladyana, Ramoun Apta dan Fajri Chaniago ini, mendapat peserta tidak genap sepuluh siswa. Mereka datang dari beberapa SMA, di antaranya yakni, SMAN 5 dan SMAN 8 Padang. Entah mengapa ada sedikit rasa ganjil, mengingat jumlah SMA di kota Padang terhitung ratusan instansi namun sama sekali tidak terepresentasikan dalam event ini.
Adam, ketua panitia acara, mengaku, lomba ini semata diadakan untuk mengenalkan dan mempopulerkan puisi di kalangan siswa, sekaligus menarik minat siswa terhadap jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dan melihat ke belakang, selama persiapan acara, memang banyak hal yang tidak berjalan dengan baik, tidak terlaksana sesuai rencana panitia. Semula adalah hampir seluruh SMA/SMK telah diundang. Namun apa mau dikata, begitu banyak yang tidak berminat. Malah ada yang dengan terang menolak berpartisipasi dalam acara ini, dan memberi raut muka dingin kepada panitia ketika datang mengundang. Entah sebab alasan apa, puisi seolah tidak mendapat tempat dalam lingkungan siswa/i. “Malah ada sekolah yang menyuruh pergi, ketika kami datang,” begitu celoteh adam saat diwawancarai. Barangkali, ah, kepala sekolah ingin siswa-siswinya fokus dengan ilmu eksak yang begitu kerennya kini atau ilmu sosial yang terpastikan. Dan berpuisi bukanlah kewajiban dalam belajar hari ini.
Lain hal dengan sekolah Welbi, siswa SMAN 5 Padang. Setelah turun dari panggung dan mempersembahkan pembacaan puisinya di hadapan juri, mengaku mendapat dukungan sangat baik dari kepala sekolah. Malah, “kami dapat uang transportasi dari beliau,” ungkap Welbi. Dia sangat senang dengan kesempatan ini. Dia mengaku menyukai puisi, namun tidak berencana kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Minatnya ada di arsitektur. Dia orang yang penasarann, sepertinya, sebab hadir di lomba cendrung untuk mencari pengalaman. Pengakuannya, baru itulah kali pertama dia ikut lomba baca puisi, dan merasa kikuk saat baru berada di atas panggung—sebelum mulai melantunkan kalimat puisi yang kemudian, perlahan-lahan, membawanya rileks dan senang.



Dok Sasindo '14: Para peserta Lomba Baca Puisi Tingkat SMA Se-kota Padang, 2015.
Meri, gadis kecil berwajah gugup. Dia datang dari SMAN 8 Padang dengan beberapa orang teman. Setelah selesai membaca puisi dan memberi salam pada audiens dan para juri, kembali dapat jatah wawancara. Dengan kegugupan yang tidak dibuat-buat, dia mengaku sangat gugup  mulanya, namun (sama seperti Welbi) setelah mulai membaca puisi, semuanya terasa menyenangkan. Waktu ditanya mengenai dukungan dari pihak sekolah, Meri mengaku datang tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Yang membuatnya ikut lomba hanya perasaan suka. Bagaimanapun, meri adalah gadis yang sangat suka puisi. Dia suka membaca sastra sejak lama. “Meri ingin masuk jurusan Sastra Indonesia UNAND kelak,” ucapnya dengan sumringah, pipinya masih sedikit merah jambu.
Di akhir acara, Adam mengungkapkan rasa senangnya atas penyelenggaraan ini. Meskipun belum sempurna, belum banyak sekolah yang terlibat, ia puas dan berharap bisa mengadakan acara selanjutnya dengan mengambil peserta tingkat Sumatera Barat. Meskipun pada kenyataannya, dari ratusan sekolah di kota Padang, ternyata hanya beberapa di antaranya yang tertarik dan menyambut sosialisasi panitia. “Karena ini acara pertama, kami sangat bangga dan akan terus belajar lebih baik kedepannya. Kami ingin mengajak siswa SMA untuk masuk ke jurusan Sastra Indonesia,” adam bertutur bahagia. Semoga saja!
Lomba Baca Puisi Tingkat SMA Se-Kota Padang berakhir pukul 15.00 WIB. Keluar sebagai pemenang I, yakni Youma Amanda (SMAN 5 Padang). Sementara pemenang kedua dan ketiga diraih Atika (SMAN 8) dan Welbi (SMAN 5).


Laporan: Infokom HMJ Sasindo Unand

By HMJ Sasindo Unand with No comments