Thursday, June 11, 2015

Sasindo 2013 Persembahkan Enam Pertunjukan (teater) dalam Dua Malam

Foto: Pementasan TPS karya Prel T, sutradara Roby Satria

Beberapa hari lalu, Mahasiswa Sastra Indonesia 2013 Unand mengadakan pertunjukan teater selama dua hari berturut-turut, 3 dan 4 Juni 2015. Pertunjukan tersebut merupakan Tugas Akhir Praktik mata kuliah Telaah Drama yang dipanitiai sekaligus (di)peserta(i) oleh mahasiswa sasindo 2013. Pementasan kali ini menampilkan enam naskah drama yang dipertunjukan oleh enam kelompok. Masing-masing dibagi atas tiga naskah dalam satu hari. Hari pertama berlangsung pertunjukan menampilkan tiga naskah karya Wisran Hadi yaitu, DR. Anda, Nyonya-nyonya, dan Matri Lini. Dan hari kedua mempertunjukan dua naskah terjemahan, Kereta Kencana karya Eugene Ionesco dan Menunggu Godot serta naskah karya dosen pengampu mata kuliah drama TPS (Tempat Pelepasan Suara) karangan Syafril Prel T.
***
Malam itu pertunjukan berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Pertunjukan diawali dengan kepiawaian seorang tokoh Doktor mempresentasikan sebuah topik tentang Minangkabau. Naskah yang bernada satire terlihat dari setiap tuturan tokoh Doktor tentang Minangkabau, baik alam, adat-istiadat maupun elemen kekuasan orang Minangkabau. Lalu tidak kalah satirenya, naskah Nyonya-nyonya hadir merepresentasikan masalah harta warisan di Minangkabau. Tokoh nyonya sebagai tokoh utama dalam naskah harus kehilangan seluruh harta suaminya akibat tuntutan dari para kemenakan suami (datuk) dan campur tangan orang luar (tuan) dalam membujuk Nyonya merelakan satu-persatu harta benda Nyonya hingga harta dalam bentuk tubuhnya sekalian. Naskah ini menjadikan harta warisan (pusaka) objek dari setiap konflik yang dialami oleh tokoh-tokoh. Selesai permasalahan tentang harta pusaka, lalu hadirlah masalah baru yang menimpa Lini, seorang ratu kecantikan di Minangkabau, yang ditinggal kawin oleh calon suaminya. Permasalahan muncul ketika ternyata Lini dinyatakan hamil dan yang menghamilinya tersebut adalah seorang sopir angkot. Pada puncak permasalahan Datuk (mamak Lini) dan ibu Lini (adik datuk) harus meninggalkan rumah pusaka dan seluruh karta warisan akibat tergadai untuk mendapatkan uang mencari bakal suami Lini yang kabur. Beranjak ke malam kedua, dua naskah terjemahan, Menunggu Godot dan Kereta Kencana menghadirkan suasana cerita yang berbeda, jauh dari Minangkabau dan persoalan keminagkabauan. Perbudakan dan nostalgia masa muda menjadi inti cerita dari masing-masing naskah. Penantian akan Godot dibaluri oleh suasana perbudakan di sepanjang adegan. Lalu nostalgia masa muda sepasang kakek-nenek menunggu kereta kencana (yang merupakan representasi dari malaikat maut) atau menunggu kematian setelah hidup lama dan mengalami berbagai persoalan dari masa ke masa. Dan pertunjukan malam itu diakhiri dengan sekulimit masalah di Tempat Pemungutan Suara yang dijadikan sebagai Tempat Pelepasan Suara, dalam konotasai yang berbeda. TPS dijadikan ajang untuk melepaskan segala hasrat dan keluh kesah masyarakat, bahkan tempat melepaskan hawa nafsu sepasang muda.  (*)

Laporan: Rita Deswita

By HMJ Sasindo Unand with No comments

0 komentar:

Post a Comment