MENOLAK YANG SAKRAL

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas menyelenggarakan acara “Diskusi Kopi Sakarek” di lesehan Balairuang FIB Unand, (Kamis 06/11/2014)[...]

Refleksi Hari Pahlawan (Liputan Padang TV)

Perayaan Hari Pahlawan selama ini sebatas agenda tahunan berbagai instansi, baik pemerintah maupun pendidikan, tanpa menyentuh esensi dari nilai-nilai kepahlawanan itu sendiri[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Monday, January 12, 2015

Galang Seni Mahasiswa IV

(Foto: penampilan pembacaan puisi pada GSM ke-IV di pelataran Caffe Uniang Kamek-FIB, Unand)

Acara Galang Seni Mahasiswa (GSM) ke- IV yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Kamis/18 Desember 2014 lalu, mendapat apresiasi yang positif dari berbagai kalangan melalui pertunjukkan seni yang dikemas secara apik, sederhana, dan sarat akan makna-makna sosial.
Acara ini pada awal kemunculannya dimotori oleh sekelompok mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia yang mulai jenuh dengan keadaan dan situasi fakultas yang saban hari semakin ditinggalkan oleh mahasiswanya, yang kebanyakan hanya kuliah pulang kuliah pulang, atau dalam istilahnya kupu-kupu, tanpa menyempatkan sedikit waktunya selepas belajar di gedung perkuliahan untuk bermain ke fakultas. Acara Galang Seni Mahasiswa ini bertujuan untuk mengumpulkan donasi berupa uang, buku-buku, serta pakaian yang masih layak pakai, yang nantinya akan disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan.
Awalnya, panitia pelaksana berniat untuk memberikan donasi tersebut kepada salah satu rumah zakat yang ada di kota Padang. Namun, tidak adanya kejelasan dari pihak rumah zakat kepada siapa nantinya donasi ini disumbangkan, panitia pelaksana berinisiatif untuk mencari alternatif lain dengan menyumbangkan donasi yang telah dikumpulkan sehari sebelum dan ketika acara dilaksanakan ke sebuah panti asuhan yang letaknya tidak begitu jauh dari Universitas Andalas. Dalam hal ini, panti asuhan yang berada di sekitar kawasan Anduring, agar sumbangan ini tidak salah sasaran dan tidak juga menimbulkan ucapan yang tidak enak di belakang nantinya.
Menurut Mahareta Iqbal Jamal, selaku ketua pelaksana dari acara Galang Seni Mahasiswa yang ke-IV mengatakan, sedapatnya acara menggalang dana seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi acara tahunan yang rutin diadakan oleh HMJ Sastra Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan bertindak dan melakukan aksi sosial tersebut, tuturnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua HMJ Sastra Indonesia, Andesta Herli, ketika dimintai untuk memberikan sepatah kata dalam pembukaan acara Galang Seni Mahasiswa yang diadakan di pelataran kafe Uniang Kamek.
"Semoga acara yang berbau sosial seperti ini bisa lebih mendekatkan kita kepada lingkungan sosial yang notabene adalah lahan kita sebagai manusia terpelajar yang nantinya akan disebut sebagai lulusan ilmu ‘humaniora'. Acara ini juga ajang bagi kita untuk bersilaturahmi melalui panggung kesenian yang baik serta bakat dan minat kita dalam dunia seni," tuturnya.
Syukur, acara GSM ini mendapat respon positif dari seluruh lapisan civitas akademika Universitas Andalas, terkhususnya dari Jurusan Sastra Indonesia. Sejatinya, kita sebagai makhluk sosial perlu berbagi kebahagiaan kepada siapa saja, meski kebahagiaan itu dimulai dari hal yang paling sederhana sekalipun. [*]


*Divisi Infokokom HMJ Sastra Indonesia, Unand

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Fib Punya Filmmaker-Filmmaker Potensial

Perkembangan dunia film, khususnya film dokumenter, memang kian kuat di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Unand. Meskipun tergolong baru, lahan film telah cukup berhasil menarik perhatian sebagian mahasiswa. Hal itu tampak dari gejala produksi-produksi film yang kian gencar dijalankan, dipublikasikan, dan didiskusikam. Begitupun sayembara-sayaembara film, menjadi pembicaraan yang cukup hidup belakangan ini. Dan  sebagai wilayah kreatif yang tergolong baru di lingkungan FIB (jika dibandingkan dengan bidang lain), film sekiranya perlu mendapat tempat dalam pikiran kita, dalam forum-forum diskusi yang acap dilaksanakan mahasiswa.
Baru-baru ini, setelah garapan berjudul “Rel Air” yang disutradarai Findo Brahmanta (Mhs. Sastra Indonesia 013’) mendapatkan prestasi mengagumkan, kini satu lagi kesuksesan diraih mahasiswa FIB dalam wilayah film dokumenter. Adalah Andika Sahara, mahasiswa Sastra Indonesia 09’, yang sukses menggarap sebuah film dokumenter tentang sosok penyandang disabilitas, dan membawanya melaju sebagai pemenang I dalam lomba yang diadakan forum Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Padang. Lomba yang diadakan dalam cakupan wilayah Sumatera Barat ini berada di bawah naungan Kementrian Sosial Indonesia, dan dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional.
Sebuah kebanggan bagi kawan-kawan di FIB, tentunya, tahu bahwa FIB juga tak kurang memiliki pegiat film yang patut diperhitungkan kualitasnya. Kedepan, film-film berkualitas dunia barangkali akan lahir dari gerak tangan seorang filmmaker FIB Unand. Semoga.

BRAILE; POTRET KESEHARIAN PENYANDANG DISABILITAS DI KOTA PADANG
Andika Sahara memenangi sayembara ini dengan membawa film dokumenter berjudul “Braile”, sebuah film tentang penyandang disabilitas di Kota Padang. Dari beberapa catatan yang diberikan Andika Sahara, film ini menggambarkan kehidupan sesosok penyandang disabilitas yang dalam kesehariannya terus berusaha agar bisa berhubungan secara langsung dengan orang normal pada umumnya. Namun kekurangan yang dimilikinya selalu menjadi kendala. Dan pada kenyataannya, kendala itu justru muncul dari orang yang normal secara fisik itu sendiri.
Dalam penjelasannya saat ditemui, Andika Sahara memaparkan bahwa permasalahan disabilitas di kota Padang belumlah tertangani dengan baik oleh pemerintah. Itu terekam dalam visual yang buat dalam Braile. Bahwa permasalahan mengenai para penyandang disabilitas sebenarnya bersumber dari kurangnya perhatian pemerintah, seperti misalnya, kurangnya pelayanan kesehatan, pengadaan kursi roda, alat-alat dengar, dan lain sebagainya. Selain itu, penderitaan yang dirasakan para penyandang disabilitas juga bersumber dari kurangnya  pengertian dan kepedulian sebagian besar masyarakat. Sesosok penyandang disabilitas dalam film ini memperlihatkan bahwa begitu sulit ia untuk berhubungan dengan orang banyak, meski pun dari ia sendiri sudah berusaha begitu keras agar tidak terlalu tajam sekat antara yang normal dan yang tidak normal.
Dalam pengakuannya pula, Andika Sahara mempunyai harapan lebih. Akan lebih bermanfaat rasanya jika film ini mampu menjadi impuls yang akan mendorong pemerintah dan masyarakat memperbaiki keadaan, terutama merubah pemahaman masyarakat sendiri tentang dunia disablitas. Selain itu, semoga ada pula terobosan-terobosan baru dari pemerintah yang bisa membawa angin segar menyangkut kesejahteraan masyarakat yang tidak diberi kesempurnaan secara fisik oleh Tuhan.



MENGENAL ANDIKA SAHARA




Andika Sahara besar di Payakumbuh. Ia merupakan mahasiswa Sastra Indonesia yang kini sedang mengambil masa “vakum” (berhenti sementara) dari rutinitas perkuliahan. Sejak tahun 2013 ia aktif dalam berbagai komunitas dan kelompok produksi. Braile adalah produksi keempat yang telah ia geluti, selain Kubu Terakhir (bersama Benny Sumarna), Sikolah Beruk, Badri, serta beberapa film fiksi. Kini berlaku sebagai pengurus dalam komunitas Filtograph, sebuah komunitas yang bergerak di bidang perfileman dan fotographi.

Selain memproduksi film, Andika Sahara juga dikenal sebagai seorang penulis prosa, tepatnya cerita pendek. Ini sudah digelutinya sejak tahun 2010, dan kerap menerbitkan karyanya di berbagai media masa. Di tahun 2012, ia sempat diundang ke sebuah event sastra di Ternate, sebagai  cerpenis muda dari Sumatera Barat.


*Divisi Infokom HMJ Sastra Indonesia, Unand

By HMJ Sasindo Unand with No comments