MENOLAK YANG SAKRAL

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas menyelenggarakan acara “Diskusi Kopi Sakarek” di lesehan Balairuang FIB Unand, (Kamis 06/11/2014)[...]

Refleksi Hari Pahlawan (Liputan Padang TV)

Perayaan Hari Pahlawan selama ini sebatas agenda tahunan berbagai instansi, baik pemerintah maupun pendidikan, tanpa menyentuh esensi dari nilai-nilai kepahlawanan itu sendiri[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Thursday, November 27, 2014

Selamat!

            HMJ Sastra Indonesia FIB Unand mengucapkan selamat kepada Rizkan atas prestasinya dalam event lomba menulis puisi dan cerpen “Gema Muharam 1436 H” yang diselenggarakan oleh lembaga Nursing Islamic Centre Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, sebagai

·         Pemenang I lomba cipta puisi
·         Pemenang II  lomba  menulis cerpen

Semoga menjadi sumber motivasi untuk terus berkarya!

Sekilas mengenai Rizkan



            Lahir di Tanah Rekah, 11 April 1995. Tinggal di Kampung Dalam, Padang. Semenjak menginjakkan kaki di kampus hijau dan menjalani pendidikan di bidang sastra dan bahasa Indonesia, ia semakin tertarik untuk memperbanyak bacaan dan mencipatakan karya sastra serta meneliti tentang hal yang berkaitan dengan sastra dan kebahasaan Indonesia.
Di kampus, laki-laki ini aktif di FKI Rabbani Unand serta mengikuti berbagai kegiatan tentang kepenulisan bersama HMJ Sastra Indonesia. Baginya, kegiatan di FKI Rabbani ia lakukan untuk mengoptimalkan ruhiah tentang Islam. Sedangkan, dengan HMJ Sastra Indonesia dan kawan-kawan di FIB menjadi moment untuk menambah kemampuan dalam hal kepenulisan. Bagi Rizkan, menulis adalah untuk menyebarkan kebaikan. Jadi, ia tidak akan menulis, bila tak ada kebaikan dan manfaat di dalamnya.
Rizkan mengakui, dalam hal kepenulisan ia sering sekali gagal, misalnya, meski sudah puluhan kali mengirimkan tulisan ke koran, tapi belum ada satu pun tang diterbitkan. Namun, ia tidak patah arang sampai di situ, melaikan terus tekun. Dan tidak sia-sia, kerja keras itu bisa terbayar ketika mampu memenangkan lomba menulis cerpen dan puisi, walau masih dalam lingkup Unand.
“Sekarang saya semakin semangat menulis, karena baru-baru ini, essay saya muncul di buku elektronik Dompet Dhuava, "Petisi Untuk Pemimpin Bangsa". Saya berharap prestasi yang akan saya ukir, akan lebih banyak lagi.”, tuturnya


Karya Terpilih
Puisi
IRINGAN SAJADAH HITAM
Puisi: Rizkan

Lena ku menyusuri gemerlapnya sajadah panjang
Menjejaki sebaris tapak kaki, hingga uban tak disangka jatuh
Hanya nikmat yang terasa
Kala memandangi padatnya jalanan di waktu senja
Bersama lampu yang tengah bercerita
Sejak ia menerangi kota
Kawanku mulai terlupa
Dia sempat singgah, menemaniku meloncati sepotong salju
Mungkin ia telah pergi
Meninggalkanku di dalam mimpi
Didampingi malam yang datang menjemput senja
Kukirim salam jauh dengan awan yang mengapung
Kuselip secebis nyanyian dengan suaraku yang lirih
Mungkin aku tinggal sendiri, menyusuri dimana ujungnya benang ini
Mengapa tak aku sadari, jalanan kosong yang membuatku terburu-buru
Kini usiaku habis dimakan waktu, aku lupa bersenggama pada-Nya
Ketika iringan sajadah hitam, datang mengetuk pintu rumahku
Memaksa musim berganti, namun bibirku tetap beku
Aku menyesal, dibalik kelopak mata yang terpejam,,,

(Syair ini didedikasikan untuk sahabat yang membuatku berlinang air mata, Midle Test 2012 @Mukomuko)


MAK LANDAU
Cerpen: Rizkan
Berhentilah menyanyi sebentar! Kata mak Lindau pada anaknya. Kau tak dengar suara adzan? Begitulah suasana setiap magrib di rumah mak Lindau yang terletak di sebelah jembatan penyeberangan darurat, di kampung Dungku. Anaknya yang bernama Tari ini memang suka bernyanyi. Dia sempat bercerita pada ibunya, kalau dia besar nanti, dia ingin menjadi penyanyi. Mak Landau hanya mengangguk saat anak perempuan satu-satunya ini, mengungkapkan gairahnya untuk jadi penyanyi, kata yang terucap dibibirnya hanya, terserah nak, yang penting halal, sambil mengecup kening anaknya yang polos.
Terik mentari takkan mampu menembus pertahanan rumah mak Landau, yang diselimuti labu yang menjalar. Sekali-kali kalau buah labunya sudah besar, mak Landau akan memboncengnya dengan sepeda, lalu menjualnya di pasar, yang berjarak  lima kilo meter dari rumahnya. Keseharian mak Landau memang beragam, kadang ia mendapat upah dari menyiangi gulma di sawah warga, sesekali menjadi kuli panen di kebun, bila beruntung, ia akan menjadi kuli panen pisang, karena selain mendapat upah uang, kadang majikannya juga memberikan beberapa tandan pisang untuk dibawanya pulang. Pisang yang didapatnya kemudian dijadikannya gorengan tuk dijual di pasar. Sukur-sukur bisa nalangin kebutuhan rumah satu minggu, ucap mak Landau dalam hatinya.
Awan mulai bergerak ke arah timur, mentari mulai merubah warnanya menjadi kemerahan, perlahan-lahan gelap datang menjemput senja, hingga mentari tak tampak lagi. Bila malam mulai menjelma, orang-orang akan banyak lalu-lalang di jembatan tua yang dibangun masa orde baru yang berada di sebelah rumah mak Landau. Asap bercampur aroma harum nasi yang baru mendidih ditanak, mengempul di udara, menambah hangat suanana malam di rumah mak Landau. Pekerjaannya yang serabutan memberi lelah yang teramat sangat, apalagi usianya kini menginjak lima puluh empat tahun, namun semua itu terbayarkan ketika pulang, makanan telah dihidangkan putrinya di atas meja tua yang dibuat mendiang suaminya dari anyaman rotan.
Kokok ayam menandakan subuh telah datang. Tapi mak Landau telah lebih dulu meninggalkan rumah sambil memikul kayu bakar yang diambilnya kemarin sore di hutan. Kali ini, ia memang tak berangkat menggunakan sepeda, ban sepedanya bocor oleh sesuatu yang tak dapat dilihatnya saat kemarin ia pulang di waktu senja. Menempuh jarak lima kilo dari rumahnya takkan terasa berat jika berangkat secepat ini, pikir mak Landau sambil mengangkat kayu di pundaknya.
Jalanan terasa licin dan ringan ditapaki mak Landau. Entah mengapa dalam gelap yang belum memudar itu, terbesit di pikirannya tentang dua anak laki-lakinya yang sekarang entah ada di mana. Ia ingat ketika terakhir kali memeluk kedua anak lelakinya, sambil mengantarkannya ke kapal di pelabuhan Batam. Waktu itu, kedua anaknya pamit untuk pergi merantau, entah mengapa setelah lima tahun, tak sekalipun anaknya pulang menyambangi ibunya yang kini telah berusia lebih dari setengah abad.
Kini pikiran mak Landau beralih pada anak gadisnya. Mak Landau menetestan air mata di pipinya, mengenang nasib anak gadisnya yang harus menjadi tukang cuci di rumah warg,a untuk membiayai sekolahnya. Ia kembali fokus bekerja setelah melihat keramaian pasar, dibayangnya kayu bakar yang ia bawa akan segera terjual ketika ia sampai di lapak para pedagang kayu. Benar saja, tak berapa lama mak Landau menurunkan kayu dari pundaknya, langsung seorang ibu muda dengan daster merah memborong semua kayu yang ia bawa.
Beberapa rupiah dari hasil jualannya ia gunakan untuk membeli beberapa gantang beras. Selebihnya ia simpan untuk diberikan pada anak gadisnya yang pasti lelah bersekolah, mengurusi rumah, dan menyuci pakaian di rumah tetangga. Hari ini mak Landau tak langsung pulang ke rumah, ia mampir dulu ke rumah Jupri, temannya sewaktu muda. Jupri pernah menawarkan pinjaman modal kepada mak Landau untuk berjualan di rumahnya, apalagi Jupri tak mengharapkan mak Landau untuk mengembalikan pinjamannya tersebut, bila tak mampu mengembalikannya. Mak Landau berencana membuka warung kelontong di depan rumahnya, dengan modal yang dipinjamkan Jupri, ia akan memulai usahanya dengan menjual lontong gulai dan sejenisnya pada orang-orang yang biasa berhenti di sekitar jembatan tua, yang menggantung menyeberangi sungai. Berkat bantuan Jupri, mak Landau berhasil mendirikan warung kelontong yang diimpikannya. Usahanya juga cukup menguntungkan, sekarang Ia tak perlu lagi menjadi kuli di ladang orang, meski kadang-kadang ia masih mencari kayu bakar di hutan untuk ia gunakan sendiri.
Rembulan bersinar terang jauh di atas awan yang mengapung dilangit, menerangi rumah mak Landau, dan memantulkan cahanya yang anggun ke atas sungai. Suara jangkrik yang berderik menambah hikmat suasana alam yang masih asri di kampung Dungku. Mak Landau mengajak putrinya berbincang, Ia menceritakan bahwa penyakitnya sudah semakin parah, dan mungkin akan segera menyusul suaminya yang telah lebih dulu pergi tiga tahun yang lalu. Mak Landau mengelus lembut pipi si anak dan menyeka air mata yang mengalir di pipi putrinya. Ia tahu, putrinya pasti akan sedih sekali jika mendengar ceritanya. Tapi, ia tetap harus menceritakan kebenarannya pada sang putri. Anemia yang telah lama dideritanya dan terus ditahan selama ini, mungkin menjadi tepat untuk diceritakan, karena kini mereka sudah cukup berkecukupan dalam hidup.
Tari, kini kita telah punya warung kelontong. Tapi, Ibu sudah tak sanggup lagi bekerja, mungkin inilah pengorbanan terakhir yang bisa ibu berikan padamu. Kamu sekolahlah yang rajin, ibu ingin masa depan kamu lebih baik dari yang ibu dapatkan selama ini, curah mak Landau pada putrinya yang mulai terlelap.
            Hari demi hari banyak mak Landau habiskan di surau. Ia sering mengikuti pengajian ibu-ibu yang ada di kampungnya. Warung kelontongnya kini diambil alih oleh putrinya. Ia lebih banyak meluangkan waktu untuk belajar ilmu agama di surau. Suatu sore, mak Landau sengaja menemui ustad yang sebelumnya telah memberi pengajian, ia bertanya perihal tanggung jawab orang tua pada anaknya yang disampaikan ustad pada ibu-ibu yang hadir di sore itu.
Pak ustad, kalau anak kita tidak sembahyang, ibuknya berdosa juga ya ustad? Ucap mak Landau sambil gugup.
            Bulan terasa pecah di kepala mak Landau, langit yang cerah tiba-tiba terasa mendung, ditemani badai dan petir. Tak dikira, ternyata tanggung jawabnya kepada si anak belum selesai juga. Padahal, separuh hidupnya telah ia habiskan untuk menghidupi dan mencukupi kebutuhan anaknya. Menjadi kuli, tukang kayu, menggarap ladang, memamen pisang, jagung, dan cabe di ladang orang telah dilakukannya. Akhirnya,saat ia sudah menginjak usia renta, ia berhasil mendirikan warung kelontong untuk mencukupi kebutuhan hidup anaknya. Tapi, ternyata ia memiliki kewajiban lain, yaitu mengajarkan ilmu agama pada anaknya. Memang sejak Tari kecil, mak Landau tak pernah mengajari satu hal pun tentang ilmu agama padanya. Ia hanya sibuk dengan pekerjaan serabutan yang dilakoninya, hingga tak sadar usianya sudah hampir kepala enam, namun akhirat belum juga dipikirkannya.
            Mak Landau sangat bersukur, di akhir hidupnya ia bisa memberikan kebahagiaan pada anaknya. Telah lama ia menantikan saat seperti ini, yang mana ia bisa menghabiskan waktu tuanya untuk lebih taat beribadah, pergi ke surau, dan ikut pengajian bersama ibu-ibu seusianya. Ia merencanakan di masa tuanya, ia bisa fokus untuk beribadah saja, soalnya dulu ketika muda ia tak terlalu ambil pusing tentang dosa, ia bertekad akan menjadi ahli ibadah dan memohon ampun atas semua dosanya di masa muda, ketika ia telah tua. Mak Calau mulai meminta Tari untuk belajar sembahyang pada tetua yang ada di surau. Namun, Tari menolak, ia ingin belajar, mencari uang dan mengejar cita-citanya. Ia tak mau memikirkan soal agama di masa mudanya.
Buk, sembahyang itu sampai kapan pun akan tetap ada, masa muda ini, kita harus bekerja untuk mengejar cita-cita. Nantilah kalau saya sudah tua baru saya sembahyang, dan minta ampun pada gusti Allah, ucap Tari pada mak Landau yang termenung mengingat masa mudanya.

*Infokom HMJ Sastra Indonesia FIB Unand



By HMJ Sasindo Unand with No comments

Wednesday, November 26, 2014

Catatan Acara Panggung Puisi 2014

Sabtu Malam, dan Sebercak Moment Estetik
(Catatan “Panggung Puisi 2014”: Acara yang bergulir
di Antara Keterbatasan Ruang Gerak)



Sabtu malam (22 November 2014) HMJ Sastra Indonesia FIB Unand menggelar acara Panggung Puisi, yang sebelumnya telah dikenal luas sebagai agenda tahunan HMJ dengan nama Tadarus Puisi. Jika pada tahun-tahun sebelumnya acara bernuansa keakraban sepanjang malam, maka tahun ini, panitia (Sastra Indonesia angkatan 2013) mengambil sikap dengan memangkas durasi acara dari yang biasanya malam sampai pagi, menjadi sore hingga jam 12 teng! Banyak sebab, sesungguhnya, yang berperan dalam perubahan konsep acara, salah satunya—dan yang paling besar porsinya—, faktor perizinan kampus yang tidak bersambut dengan tuntutan konsep. Namun terlepas dari itu semua, acara malam itu tentu harus diapresiasi. Kerja keras panitia tidaklah sia-sia. Moment estetik yang hadir begitu saja dan natural, menandakan betapa puisi masih menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan.
Dibuka pada sore hari pukul 16.00 Wib dengan diskusi dan orasi budaya mengenai puisi dalam kehidupan, acara tampak mengesankan. Heru Joni Putra, Fariq Alfaruqi, dan Ramoun Apta, adalah nama yang “ditunjuk” menyampaikan perihal puisi dan berpuisi, dari berbagai perspektif. Mahasiswa baru Sastra Indonesia, tampak menyambut pembahasan itu dengan bersahabat, meskipun bincang-bincang kemudian tidaklah begitu riuh dan keruh (barangkali juga sebab durasi yang tak sepanjang tali beruk itu). Namun setidaknya, beberapa pembahasan yang dikemukakan tiga pembicara di atas dirasa cukup menjadi wacana dasar bagi peserta diskusi untuk mulai mengetuk pintu puisi di lusa hari, terlepas dari masalah minat atau tidak minat. Dan pembahasan itu pula, terasa mengesankan dan mampu menyentuh harapan yang ditanam kawan-kawan panitia, akan pengenalan puisi terhadap generasi baru Sastra Indonesia Unand.
Selepas magrib, acara dilangsungkan di ruang terbuka Medan nan Balinduang FIB, dengan konsep yang bukan lagi bincang-bincang dan bertukar pikiran, melainkan menjadi panggung pertunjukan seni yang apik. Panggung temaram dengan beberapa warna cahaya; sound system lengkap dengan gitar dan gendang; grafity di bekas karung semen sebagai ganti spanduk; obor-obor bertebaran di sudut-sudut strategis; tribun kiri dan kanan yang pencahayaannya tidak cukup untuk mengenali kawan dekat.  Para tamu undangan tampak kian berdatangan selepas hujan tinggal rinai (hujan yang tak berhenti turun sejak sore membuat para tamu tidak mengindahkan jadwal pada undangan): alumni, dosen, masyarakat FIB, dan komunitas-komunitas seni Kota Padang. Ada yang berpasangan, ada yang bersama suami dan seorang anak, ada yang sendirian tanpa teman—barangkali ia merasa pertunjukan puisi bisa menyelamatkannya dari rasa sepi di Sabtu malam.

(Foto: Tribun disesaki penonton)

Banyak pegiat pertunjukan, komunitas seni yang tampil memberi keriuhan. Sederet pembaca puisi yang antusias mengisi panggung; dosen, alumni, tamu tercinta, wakil dekan, dan lain, dan lain. Semua itu adalah pengisi waktu demi menyukseskan pertunjukan istimewa yang dirancang panitia.  Adalah mahasiswa baru 2014, yang sengaja diberi kehormatan penuh kasih sayang, untuk membawakan puisi karya para penyair yang sejak lama lahir dan tumbuh di Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand. Sembilan grub diberi kesempatan istimewa untuk tampil (barangkali menjadi pengalaman pertama bagi mereka), mengapresiasi puisi, dan untuk kemudian mendapat tepuk-tangan paling riuh dari segenap penonton di tribun. Sembilan grub tersebut mendaramakan puisi-puisi karya penyair Sastra Indonesia Unand, dan puisi karya penyair Indonesia.

(Foto: Sekelompok mahasiswa baru Sastra Indonesia FIB Unand setelah sukses menampilkan dramatisasi puisi)

Puas menyanjung mesra kawan-kawan mahasiswa baru, maka sampailah moment pada yang disebut sebagai puncak acara (bagian ini bertahan dari tahun ke tahun). Sekitar pukul 22.30 WIB, Satu dua orang naik ke atas panggung, membawakan tembang “Nyanyian Jiwa” dari Iwan Fals, kemudian membaca puisi ketika lagu sampai pada bagian reffrain. Dari sinilah puncak moment estetik itu dimulai. Satu persatu pembaca puisi menaiki panggung secara spontan, sementara “Nyanyian Jiwa” tak kunjung sampai di petikan terakhir. Obor-obor yang tadinya ditancapkan di sisi-sisi panggung, kini berdiri di tengah-tengah pentas, dikelilingi empat—lima orang yang khusuk membaca puisi. Seperti itu suasana terus berlanjut, hingga panggung disesaki oleh sekitar 20 pembaca puisi, sementara sekelompok pegiat teater suntuk dalam teatrikal mabuk, di bawah rinai yang dingin. Bersamaan dengan itu pula, teriakan-teriakan puisi terdengar dari sudut-sudut kelam tribun. Suara laki-laki dan perempuan, entah siapa. Rupanya panitia telah lebih sigap mengambil inisiatif: satu—dua microfon berjalan di selingkar ruang gelap tribun. Semua orang kini membaca puisi, berbekal stensilan berisi puisi-puisi yang disebar panitia sejak permulaan acara.

(Foto: Puluhan pembaca puisi menyesaki panggung)

Seperti itulah “Panggung Puisi 2014” memuncak. Moment estetik yang tercipta lewat perasaan spontan dan rasa canggung yang lenyap entah ke mana dari dada, disaksikan gerimis dan kabut dingin bukit Limau Manis. Sekitar satu setengah jam, Sabtu malam menjadi sehabat yang penuh perhatian dan pengertian.
Mendekati pukul 24.00 WIB malam, acara diakhiri. Hadirin tercenung dalam riuh yang masih mengganas dalam dada. Kini durasi mesti dipatuhi. Di luar tribun, tampak bus kampus berdiri dalam diam, tampak kedinginan. Sesuai tawaran panitia kepada jajaran pimpinan fakultas, para peserta (mahasiswa baru 2014)  mesti dipulangkan dengan aman dan nyaman. Bersamaan dengan itu pula, satu persatu tamu bergerak ke luar tribun. Satu—dua panitia berdiri di jalan ke luar, bersalaman, dan menjawab pamit para tamu: dosen, Wakil Dekan FIB, alumni, dan komunitas-komunitas undangan.
Di panggung, cahaya kini benderang. semua lampu telah dihidupkan. Tampak beberapa orang bergerak-gerak kecil di panggung bagian belakang, berkemas, sambil bercengkrama dan tertawa-tawa. Di sudut depan panggung, segerombol anak laki-laki dengan kepala dan baju yang basah, duduk dan tersenyum sumringah. Gelas-gelas kopi menjadi sesuatu yang paling akrab bagi setiap orang malam itu. (*)
                                                           




*Catatan: Andesta Herli ~ Ketua HMJ Sastra Indonesia Unand                                                                           (Padang, November 2014)

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Monday, November 24, 2014

Koran Minggu Edisi 23 November 2014



Harian Rakyat Sumbar

Cerpen, "Nanar" oleh Ade Zetri Rahman
Puisi, Budhi Setyawan

Harian Singgalang

Cerpen, "Kardus Mingguan" oleh Boni Chandra
Puisi, Roby Satria

Padang Ekspres

Cerpen, "Mayan" oleh Cikie Wahab
Puisi, Ramadhani

Kompas

Cerpen, "Protes" oleh Putu Wijaya
Puisi, Dodi Kristanto, Petrus Canisius Prantara


Media Indonesia

Cerpen, "Sihir Tumis Ibu" oleh Risda Nur Widia
Puisi, Abdul Kadir Ibrahim

Koran Tempo

Cerpen, "Anak Babi yang Masih Menyusu kepada Ibunya" oleh Clara Ng
Puisi,  Ni Made Purnamasari

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Tuesday, November 18, 2014

Koran Minggu edisi 16 November 2014

Harian Rakyat Sumbar

Cerpen, "Palla-La" oleh Aulia Rahman
Puisi, Sahanara

Harian Singgalang
Cerpen, "Teriakan Makam" oleh Dodi Saputra
Puisi, Dodi Saputra

Padang Ekspres
Cerpen, "Perempuan yang Menunggu dengan Tongkat" oleh Budi Afandi
Puisi, Safrizal Sahrun

Kompas
Cerpen, "Travelogue" oleh Seno Gumira Ajidarma
Puisi, Joko Pinurbo

Media Indonesia
Cerpen, "Kucing yang Berubah Jadi Manusia" oleh Arwendo Atmowiloto
Puisi, Novita Sari Manurung dan Anisa Isti Muslimah

Koran Tempo
Cerpen, "Hantu Perempuan dan Hotel Berarsitektur Kiri" oleh Dedy Tri Riyadi

Puisi, Esha Tegar Putra

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Panggung Puisi 2014


By HMJ Sasindo Unand with No comments

Monday, November 10, 2014

Refleksi Hari Pahlawan (Liputan Padang TV)



Perayaan Hari Pahlawan selama ini sebatas agenda tahunan berbagai instansi, baik pemerintah maupun pendidikan, tanpa menyentuh esensi dari nilai-nilai kepahlawanan itu sendiri. Ini mesti dibenahi. Jika pun perayaan Hari Pahlawan tetap diadakan, ia mesti menjadi sebuah kontemplasi atau pembacaan yang mendalam oleh masyarakat, bukan menjadi ajang seremonial belaka.

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Koran Minggu Edisi 9 November 2014

Harian Rakyat Sumbar

Cerpen, "Kaum Marjinal" oleh Rahmi Intan
Puisi, Denny Meilizon

Harian Singgalang

Cerpen, "Perempuan Bukit Sundi" oleh Ade Chandra
Puisi, Riyon Fidwar

Padang Ekspres

Cerpen, "Pelayaran Kedelapan" oleh Karta Kusumah
Puisi, Riyon Fidwar

Kompas

Cerpen, "Karma Tanah" oleh Ketut Syahruwardi Abbas
Puisi, Avianti Armand, Dedi Tri Riyadi

Media Indonesia

Cerpen, "Pagar Batu" oleh Yudhi Herwibowo
Puisi, Lailatul Kiptiyah, Endang Supriadi

Koran Tempo

Cerpen, "Pemuda Penyayang" oleh Yusi Avianto Pareanom


Catatan: Silahkan tambahkan di kolom komentar. Terimakasih.

By HMJ Sasindo Unand with 2 comments

Friday, November 7, 2014

MENOLAK YANG SAKRAL

(Catatan Diskusi Kopi Sakarek)


kopi sakarek

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas menyelenggarakan acara “Diskusi Kopi Sakarek” di lesehan Balairuang FIB Unand, (Kamis 06/11/2014). Dimotori oleh lembaga organisasi mahasiswa HMJ Sastra Indonesia Unand, kegiatan diskusi dengan tema “Desakralisasi Pahlawan dalam Karya Sastra” ini berlangsung santai namun hangat, serta mendapat antusisme dari para mahasiswa dan dosen FIB.
Banyak hal dibicarakan oleh para peserta diskusi, berangkat dari wacana awal diskusi, yaitu, menjadi intelektual yang tidak terjebak dalam sikap pensakralan terhadap tokoh-tokoh pahlawan, terutama dalam kaitannya dengan dunia sastra. Dalam diskusi ini, hadir dua orang pembicara dengan latar belakang berbeda, yaitu S Metron (Budayawan) dan Syafril Prel T (Dosen Sasindo Unand).
Diskusi dimulai pukul 10.00 WIB dengan pemaparan dari dua pemateri mengenai pandangan mereka menyangkut tema yang dirumuskan panitia. S Metron, yang kesehariannya sibuk dengan permasalahan budaya, khususnya di kota Padang, banyak berbicara tentang kultur Minangkabau. Ia menguraikan bagaimana masyarakat Minagkabau sebenarnya memiliki semangat desakralisasi sejak lama. Orang Minangkabau menurutnya sangat cocok dengan konsep desakralisasi, hal ini bisa dilihat dari sikap hidup orang Minang yang terbiasa tidak mau memuji dan mengagungkan seseorang secara berlebihan. Pada bagian ini, S Metron seperti cendrung ingin memberi motivasi kepada para audiens, agar bisa mandiri, dan menahan diri untuk tidak mensakralkan seorang tokoh secara berlebihan. Arti kata, setiap individu harus keluar dari perasaan inferior, dan mulai berani keluar dari tuntutan mitos dan imej-imej yang mengekang kreativitas, untuk kemudian menghancurkannya.
Pemaparan S Metron sebagian besar beranjak dari tinjauannya terhadap karya dan prinsip hidup dramawan besar Sumbar, Alm. Wisran Hadi. S Metron mencontohkan, bahwa wisran hadi memperlihatkan sikap anti pensakralan tidak saja dalam karya-karya dramanya, namun juga dalam sikap hidupnya sehari-hari. Wisran Hadi, kisah S Metron, adalah salah satu sosok yang berhasil konsisten dengan sikap hidupnya dalam menolak sesuatu yang agung atau sakral.
Dalam dunia sastra Indonesia, Wisran menunjukan sikap dengan tidak mau “pindah” ke Jawa untuk berkarya, sebab dari Sumbar pun, ia tetap mampu diakui sebagai sosok penting dalam perteateran Indonesia. Ini adalah representasi dari sikap menolak susuatu yang sakral, atau pada bagian lain, bisa disampaikan dengan istilah wacana besar atau mainstream. Ketika sastrawan dan seniman Indonesia bersetuju dengan konsep Jawa sebagai pusat, maka Wisran Hadi memberontak dari hal itu dengan cara menakhlukkan Jawa, terkhusus, Jakarta, lewat karya-karyanya yang keluar dari pakem-pakem konvensional yang dilanggengkan oleh Jakarta sebagai pusat.
Konsep S Metron kemudian disambung oleh Syafril Prel T, dengan menyebut istilah dekonstruksi, secara lebih luas. Sebagaimana S Metron, Syafril Prel T pun membuka pemaparannya dengan membaca lagi Wisran Hadi. Sebagai orang yang “berguru” langsung pada Wisran, Syafril Prel T menerangkan betapa Wisran Hadi adalah figur terdepan bagi orang Minangkabau. Wisran Hadi hadir sebagai contoh yang sempurna bagi anak muda, khususnya seniman Sumbar dalam memaknai kembali posisi dan perannya, dalam memaknai kembali esensi dari kesenimanan itu sendiri.
Hampir tiga jam, diskusi berlangsung hangat, dengan adanya tanggapan balik dan pertanyaan dari para audiens. Permasalahan sakralisasi pahlawan dalam karya sastra, atau sakralisasi teks dalam pengertian postmodern, kiranya menarik minat para mahasiswa. Hal ini mungkin disebabkan tema ini agak cocok dengan mahasiswa dan dunia kampus, di mana mereka setiap hari berhadapan dengan sistem dan legitimasi wacana besar. Denggan kata lain, mahasiswa merasa setiap hari berhadapan dengan pensakralan-pensakralan dalam banyak wujudnya. Hal ini juga yang ditolak segelintir panitia, yang kemudian menjadi salah satu alasan memilih tema “Desakralisasi Pahlawan dalam Karya Sastra” pada acara Diskusi Kopi Sakarek yang merupakan agenda bulanan HMJ Sastra Indonesia Unand ini.


By HMJ Sasindo Unand with No comments