Sunday, January 24, 2016

Nama Pengarang : Muhammad Ikhsan
 Judul Buku : Lelaki Penjual Cermin
 Penerbit : INTERLUDE, Berbah, Sleman, Yogyakarta Tahun : 2015
 Jumlah Halaman : vii + 101 hlm
Peresensi : Mahareta Iqbal Jamal

MENJEMPUT YANG LALU, MENGHANTAR KE ERA KESEKARANGAN
"Tapi, tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan, kan, Ren?"(tulis miring) Sepenggal dialog yang membuat saya menyematkan dalam hati ucapan "kurang ajar" pada awal pembacaan saya terhadap buku ini. Bagaimana seorang tokoh bernama Garundang--jik diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti berudu--dalam cerpen yang berjudul Menikam Nurani(miring) mencoba menghadirkan ke wajah masyarakat bahwa ketidakpilihan di era kesekarangan atau saat ini, telah menjadi salah satu opsi dari pilihan itu sendiri.
Hal semacam ini sepertinya telah lama terpraktik di lingkungan masyarakat kita, contohnya pada saat pemilu. Para golongan putih (golput) yang tidak memberikan hak suaranya juga merasa berhak untuk tidak memilih dengan alasa yang beragam. Bercermin dengan cerpen Menikam Nurani(miring) yang ditulis tahun 2009 memiliki kisah yang dirasa masih teraplikasikan hingga sekarang.
Buku sehimpun cerpen Lelaki Penjual Cermin(miring) karya Muhammad Ikhsan yang terbit pada tahun 2015 mencoba mengambil andil di dalam pembaharuan perbendaharaan kesusasteraan yang kian lesu, dimana masyarakatnya kian hari kian sibuk meninggalkan substansi sastra dan beralih kepada hal-hal yang berbau popoler atau kesekarangan. Tidak lebih dari itu, dewasa ini sastra hanya dipandang celek dan menjadi sub-sub pelengkap yang dengan adanya ia tidak berpengaruh besar dan tanpanya seperti ada sesuatu yang dirasa kurang. Tetapi hal semacam ini nantinya akan menggiring kita pada pembicaraan lain tentang ranah selera yang sedang berkembang di masyarakat.
Di akhir cerpen Menikam Nurani(miring) penulis menghadiahi pembaca dengan ingatan tentang bocah bernama Ponari yang sempat santer diberitakan karena celupan batu ajaibnya ke dalam air putih biasa dan dianggap mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Penulis sepertinya juga menyukai gaya penceritaan dengan alur kilas balik (flashback). Menjemput ingatan lalu yang punya cerita padat, perubahan latar waktu yang cukup cepat, tetapi tetap dikemas dengan singkat; dari situasi yang sedang terjadi, beralih ke masa lalu, kemudian eksekusi penyelesaian kembali ke penceritaan yang semula dengan sedikit menyambung peristiwa yang sedang terjadi.
Hal semacam ini ditemukan pada cerpen Menikam Nurani, Kepala Kuda Narto, Fikri, Lelaki Penjual Cermin,(miring) dan masih ada di antaranya. Beberapa juga ada menggunakan alur maju yang tanpa sedikitpun mengurangi pesan dan tujuan yang ingin disampaikan oleh penulis.
"Ai, cerita indah itu begitu pahit untuk dikenang."(miring)


By HMJ Sasindo Unand with No comments

0 komentar:

Post a Comment