Saturday, June 11, 2016

Cerpen: Munak



*Muhaimin Nurrizky

            “Apa dosa besar itu, bu?” tanya Munak kepada ibunya. Ibunya diam sejenak, namun lebih dari sepuluh menit. 
Munak mengerutkan keningnya. “Apa dosa besar itu, bu?” tanyanya sekali lagi, dengan nada ingin tahu. Ibunya menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan berat. “Melawan orangtuamu!” jawab ibunya cepat.
“Kenapa bisa begitu, bu?” tanyanya sekali lagi. “Kamu ini banyak tanya ya! Kan sudah ibu jawab, jangan melawan orangtuamu. Jadi jangan tanya ibu lagi. Itu sama saja melawan orangtuamu!”
Munak terdiam kaku mendengar bentakan ibunya. Kepalanya menunduk ke bawah. Matanya menjadi sayu, seperti menahan air mata. Ia takut sekali ketika ibunya marah. Ibunya sedang menunggu telepon dari nenek. Setiap sebentar melirik layar hape. Jika tidak ada yang dapat menarik perhatian dari layar itu, ibunya langsung mendecak kesal.
Malam itu sebenarnya Munak mendapat pekerjaan rumah dari sekolah untuk menjawab pertanyaan guru PAI (Pelajaran Agama Islam). Ia mendapat pekerjaan rumah menuliskan salah satu dosa besar. Memang tidak ditanyakan alasan mengapa dosa itu adalah dosa besar. Namun Munak ingin saja bertanya kepada ibunya. Ia akhir-akhir ini jarang berbicara kepada ibunya, semenjak ayahnya jarang pulang atau tepatnya sudah tidak pulang-pulang.
Di depan meja belajar, tangan Munak serasa berat digerakkan. Ia takut sekali. Wajahnya menunduk ke bawah. Bukan menatap buku tugasnya, namun menatap kakinya. Kakinya yang juga terdiam kaku. Memang seluruh badan Munak terasa kaku sekali. Kaku karena takut bergerak atau memang kaku karena tidak bisa digerakkan. Bulir-bulir keringatnya mulai keluar satu persatu. Matanya mengedip teratur. Setiap detiknya sama, setiap tiga detik berkedip.
Tatapannya lurus menembus kakinya. Menembus lantai keramik rumahnya. Menembus pondasi rumahnya. Menembus tanah. Hingga ia menatap sebuah gelap yang begitu gelap. Lalu gelap itu berangsur-angsur hilang digantikan sebuah adegan seorang lelaki yang sedang tersenyum. Lelaki yang begitu Munak kenal. Lelaki yang sangat dekat dengannya. 
Lelaki itu keluar dari mobil yang sudah diparkirkannya di garase depan rumah. Lelaki itu turun dari mobil dan melangkah menuju pintu rumah. Dengan senyum yang begitu sangat ramah, lelaki itu membuka pintu dan membiarkan senyumnya disambut segala sesuatu yang ada di dalamnya. Ternyata ada seorang anak kecil yang berlari semangat menghampiri lelaki tersebut.
Umur anak itu kira-kira tujuh tahun. Anak kecil itu adalah Munak. Anak kecil yang sebenarnya adalah Munak itu berteriak kepada lelaki itu, “Ayah pulang!” Kemudian lelaki itu menggendong Munak. Mereka tertawa bersama. 
Dari dalam rumah terdengar suara perempuan, “Ayah cepat masuk, ini sudah ibu buatkan sup untuk makan kita,” teriak perempuan itu. Munak dan ayahnya masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam, mereka langsung menuju meja makan. Ternyata perempuan itu adalah ibu Munak.
Ibu Munak yang selalu tersenyum. Ibu Munak yang selalu tampak ceria dengan wajah tirusnya yang terlihat bercahaya. Bukan ibu munak yang seperti sekarang. Bukan ibu munak yang wajahnya tampak kelam jika sedang marah seperti awan sebelum hujan.
“Hey! Ngapain menung-menung, buat PR-mu!” 
Munak terkejut. Suasana yang menggembirakan tadi berubah senyap menikam. Lamunannya berakhir oleh suara bentakan ibunya. Ia langsung mengubah pandangannya untuk menulis pekerjaan rumahnya itu. Jantungnya terkejut, sehingga memacu darah keseluruh tubuhnya dengan kencang. Bulir-bulir keringatnya bertambah banyak keluar dari pori-porinya. Kulitnya seperti tisu yang terjatuh di genangan air. Basah oleh keringat. Tangannya bergetar. Jari-jarinya lunglai memegang pensil. Dengan tangan menggigil, Munak mulai untuk menulis.
Munak tidak mengerti, mengapa ayahnya pergi begitu saja meninggalkan ia dan ibunya berdua. Semenjak malam itu. Malam yang menjadikan ibunya seperti seseorang yang tidak biasa baginya. Malam yang mengubah segala hal bagi Munak. Munak tidak pernah melihat ayah dan ibunya betengkar seperti itu.
Seluruh barang di rumahnya berantakan. Mulai dari meja yang terbalik. Gelas dan piring yang pecah. Kursi yang berantakan. Dan barang yang sangat ditakuti Munak, pisau. Pisau yang terlegetak di bawah kaki ibunya. 
Ketika itu, Munak melihat ayahnya memukul tangan ibunya yang sedang menggenggam pisau dapur. Pisau yang biasa digunakan ibu untuk memasak. Munak hanya berdiri diam di sudut ruangan melihat itu. Air mata Munak seperti banjir di kisah Nabi Nuh, deras dan tidak berhenti-henti.  
Di malam pertengkaran itu, Munak hanya ingat beberapa kata yang asing baginya. Ia mendengar kata itu ketika ibunya berteriak histeris kepada ayahnya.
“Dasar suami tidak tahu diri! Nikahi saja selingkuhanmu!” Munak tidak mengerti apa itu perselingkuhan dan apa itu suami yang tidak tahu diri. Kata yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan di benak Munak. Ketika itu munak hanya menangis. Ia merasakan ketakutan yang sangat takut. Kedua orangtuanya melakukan adegan yang membuat bathin Munak terguncang hebat.
Ketika pertengkaran itu selesai atau memang tidak akan pernah selesai, Munak melihat ayahnya pergi keluar dari rumah. Ketika sampai di depan pintu, ayahnya melihat Munak. Ayahnya menatap Munak dengan ekspresi menghiba. Entahlah. Bagi Munak ekpresi wajah ayahnya saat itu adalah ekspresi untuk pergi selamanya. Lalu ayahnya berkata, “Ayah pergi sebentar, ya.”
Ayahnya tersenyum sekilas, lalu berlalu meninggalkan Munak, ibunya dan rumah yang lebih mirip gudang pecah. Itulah senyum terakhir yang Munak lihat. Ah, setiap hari Munak selalu mengulang-ngulang adegan itu di benaknya. Ia tidak paham. Ia tidak mengerti. Hanya ada tanda tanya di benaknya. Apakah dunia orang dewasa itu begitu mengerikan?
Semenjak itulah, ibu Munak jarang berbicara, tidur sering larut, dan sering marah-marah jika Munak menanyakan tentang ayahnya. Tidak hanya itu, Munak dan ibunya tidak tidur sekamar lagi. Kata ibunya Munak harus kuat, tidak boleh menjadi orang yang penakut seperti ayahnya. Padahal Munak selalu takut jika tidur sendiri.
Namun, Munak akan lebih takut lagi jika ia mengatakan tentang ketakutannya kepada ibunya. Bagi Munak tidak ada ketakutan yang lebih takut selain melihat ibunya marah.
Telepon berdering. Ibu Munak menyambar hape.
“Sudah dikirim?” jawab ibunya langsung.
Terdengar suara lirih dari seberang telepon, “Sudah, nak. Gimana kabar kamu dan Munak? Sehat?”
“Kami aman! Sudah, saya mau ambil uangnya,” jawab ibunya dan langsung mematikan telepon.
“Dasar orangtua lamban, ngirim uang saja lama!” gumam ibunya sambil berjalan ke kamar.
Munak tahu ibunya baru saja ditelepon nenek untuk mengabarkan bahwa uang sudah nenek kirim. Sekali seminggu nenek selalu mengirimkan uang. Munak tidak tahu, apakah ibunya tidak bisa mencari uang. Semenjak ditinggal ayah, ibunya selalu pergi pagi dan pulang sore, seperti ayah, namun pakaian ibu tidak serapi ayah. Ibu selalu pergi dengan pakaian yang menampakkan kulit-kulit di tubuhnya dan warna pakaiannya selalu mencolok. Munak tidak mengerti, ibunya pergi pagi pulang sore, seperti ayah, tapi mengapa ibunya selalu minta uang kepada nenek?
Ibunya tiba-tiba sudah berganti baju dengan baju seperti yang biasa ia kenakan ketika pergi pagi. 
“Ibu pergi dulu, kamu di sini saja. Kalau lapar ada ayam di meja makan.”
“Ke mana, bu?” tanya Munak dengan nada takut.
“Sudah kerjakan saja PRmu itu! Ibu pergi sebentar.” Ibunya langsung berlalu menuju pintu rumah. 
Baru kali ini ibunya pergi malam. Munak takut tentang kepergian malam. Malam adalah kepahitan yang teramat baginya. Ia terbayang malam ketika ayahnya meninggalkannnya. Munak takut jika ibunya juga pergi untuk tidak kembali lagi. 
Ketika ibunya baru saja membuka pintu rumah untuk keluar, adzan isya berkumandang. Di dalam rumah, di ruang tengah, di dalam hati, Munak ingin sekali mengajak ibunya untuk sholat isya bersama sebelum ibunya pergi. Tapi Munak takut jika ibunya akan marah lagi kepadanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengajak ibunya.
Benak Munak terisi visual adegan ayahnya, ibunya dan ia sedang sholat berjamaah bersama. Seperti dulu, ketika ayahnya masih di rumah dan belum pergi untuk selamanya. Mata Munak mulai berkaca-kaca.
Di atas meja belajar, kertas pekerjaan rumah Munak berisi coretan. Coretan itu seperti tulisan, yang jika dibaca baik-baik akan menyusun sebuah kalimat seperti ini: DOSA BESAR YAITU MELAWAN KEPADA ORANG TUA. Dan tulisan itu mulai dijatuhi bulir air mata Munak. (*)
Padang, Februari 2016
—Bersama Latifa Ibrya
            Penulis merupakan mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2013. Cerpen ini sebelumnya dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres dan koran.padek.co

By HMJ Sasindo Unand with No comments

0 komentar:

Post a Comment