Saturday, December 6, 2014

Puisi-Puisi Roby Satria




Aku Adalah Kertas

Aku adalah kertas.
Jadikanlah perahu, seperti kekanakmu dulu.
Naikkan segala kata di atasnya
seperti nuh membawa segala yang bernyawa.
Layarkanlah pada tempat yang tak sependek kalimat.
Kemudian di paragraf sana biar aku yang merapungkannya.

Padang, 2014

  
Layangan

Layanganku biasa saja seperti layangan lainnya
terbang di langit yang tak sebesar rumpun bambu.
Dekat diulur jauh dijujut
Tapi semenjak angin berkepusu binal
Ia layangan pandai memintal
Dan meliuk liar sebelum akhirnya tersangkut
pada pucuk pinang.

Layanganku tak lagi biasa sekarang.
Sebab dijangkau tak sampai tangan
menjulukpun  penggalah sayup,
meski berjinjit kaki Marie Taglioni.
Namun, malang sungguh malang
ia layangan pandai bersantai dengan ekor melambai.
Seakan tak tahu kekanakku tersangkut bersamanya.

Padang, 2014


Mimpi

Mimpi tak pernah lelah datang dalam tidurmu.
Tak pernah kehabisan cerita.
Jika dilukiskan,
daratan dan apa saja yang luas habis jadi kanvas
dan segala yang cair jadi pewarna.
Kemudian, apapun yang berujung jadi kuas.
Tiada pernah bakal tahu dengan cukup
yang akan ia pajang di balik dengkurmu
yang serupa kucing makan tulang.

Setelah kau terjaga, akibat muka ditimpa cahaya
yang mengusir malam lewat fentilasi jendela,
bakal kau dapatkan ingatan tentang mimpi
 – mengapa kau tak jadikan aku nyata?

Padang,2014

  
Sajak Beruk
Atas semua kelapa yang telah jatuh
aku susun jari yang sepuluh.
“Terima kasih” batinku.

Pada tali yang mengekang sigapaimu.
Dan sesemak terdekat yang kurengkuh
sebagai penghalaumu.
Memang menampak taringku
sebab aku tak mau kau panjat kelapa orang.

Padang,2014


Ke Payakumbuh

Antara Lubuak Aluang dan Sicincin
Jalan berlubang berkundang-kundang debu
seakan kuda-kuda baru siap berpacu.
Menambah sesak akan rindu
yang dibentangkan jarak.

Sampai di Silaiang, aku mendaki mengurai kisah
yang berkelindan di muara pantai Padang.
Ingatkah disana, sayang? dibawah tenda
kita secangkang kura-kura
yang menganggap senja sebagai musuh.
Menggelikan sekali bukan?

Lalu di Koto Baru setelah Padang Panjang,
aku jalan setengah patah
yang muka hilang bertambah kebelakang.
Merah mata melulung
dengar cerita bawang merah, seledri, dan bumbu-bumbu saji
yang sunyi di tinggal petani.
Sebab tak ada lagi yang bakal marah-marah
saat rumput liar berziarah.


Sekarang baru sampai Baso.
Jangan takut, aku tak membeli kain seken di Bukitinggi.
Sebab benang yang kau sulam masih melingkar di tubuhku
hangat sekali.
Buat mataku seperti ayam gadis bertelur,
lekas aku tepekur.

Aku ke Payakumbuh, sayang.
Sepanjang jalan tak satu sumpah terlangkah
juga janji yang tercecer menuju kemari,
ke kampungku,
ke air jernih ini,
bakal aku sucikan cinta kita.

Padang,2014


Kopi

Aku ingin tidur lagi ketika kopi masih jalang
Sebab tubuhmu membayang di dalamnya

Aku ingin memelukmu saat kopi disesap
Sebab tak ada gelendang pada lidah

Aku ingin menumpahkannya
Kopi tak punya rasa
Ingatan yang tak mungkin di jumpa
Tapi bagaimana bisa sebab baru saja terhidang

Padang,2014

  
Sajak Tali Sepatu

Sebelum kita diperadukan
Sebagai sebuah tali sepatu
Yang memegang erat hukum pertalian – Ikat mengikat
Telah begitu banyak rahasia lubang yang kita lalui
Maka sebelum ikat yang membikin kita lekat
Aku memilih bunuh diri diinjak tapak
Sebab, bukankah ular perlu lapar untuk tidur
Atau rayap butuh sayap untuk terbang menjalang kematian

Padang,2014


Makan Malam
Malam seluas meja
Bulan menjelma piring
Seperti seorang kekasih
Kita saling manja
Makan malam bersama
Saling menyuap cahaya

Padang, 2014

*Puisi-puisi ini pernah dimuat di Koran Singgalang, 22 November 2014


 Roby Satria , lahir di Payakumbuh, 11 Februari 1995.
Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas.
Berkegiatan di Labor Penulisan Kreatif (LPK), dan Filtograph.








By HMJ Sasindo Unand with No comments

0 komentar:

Post a Comment