MENOLAK YANG SAKRAL

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas menyelenggarakan acara “Diskusi Kopi Sakarek” di lesehan Balairuang FIB Unand, (Kamis 06/11/2014)[...]

Refleksi Hari Pahlawan (Liputan Padang TV)

Perayaan Hari Pahlawan selama ini sebatas agenda tahunan berbagai instansi, baik pemerintah maupun pendidikan, tanpa menyentuh esensi dari nilai-nilai kepahlawanan itu sendiri[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Wednesday, September 9, 2015

Hari Puisi Indonesia: Silaturahmi Para Penyair





Hari Puisi Indonesia (HPI) adalah acara untuk memperingati Hari Puisi, serta untuk silaturahmi penyair yang ada di Sumatera Barat, Riau, dan Kepri. Acara tersebut diselenggarakan pada hari Sabtu (5/9). Yang berlokasi di Gedung Teater Utama, Taman Budaya, Padang.

Tepat pada pukul 20.50 WIB acara tersebut dimulai. Kursi-kursi yang terdapat di dalam Gedung Teater Utama tersebut dipenuhi oleh para penonton yang antusias mengikuti acara ini. Banyak pembacaan puisi yang dibacakan oleh para penyair, baik dari Sumatera Barat selaku tuan rumah, maupun dari Riau dan Kepuluan Riau (Kepri), mulai dari penyair Gus TF (Sumatera Barat), Rusli Marzuki Saria (Sumatera Barat),  hingga Tarmizi (Riau). Tidak hanya pembacaan puisi, acara pun diisi oleh penampilan musikalisasi puisi dan orasi budaya yang dibawakan oleh Yusmar Yusuf. Saat acara berlangsung, banyak peserta yang sangat antusias mengikuti acara dari awal.

Menurut salah seorang panitia, Dini Alvionita (20), acara ini selain untuk memperingati hari puisi, juga untuk menjalin silaturahmi diantara para penyair, khususnya penyair Sumbar, Riau, dan Kepri. Disamping itu, dalam acara ini juga diadakan launching buku yang berjudul "Susi" karya Gus tf serta launching program acara apresiasi puisi dan launching halaman budaya Padang Ekspres “Cagak”. Peserta yang turut berpatisipasi dalam acara ini dimulai dari para kru Padang Ekspres, kru Padang TV, komunitas seni, mahasiswa, maupun umum.
Saat ini, sedang marak-maraknya masyarakat berkegiatan sastra, atau bisa dibilang saat ini sastra disambut dengan baik oleh masyarakat. Banyak penulis-penulis baru yang ingin belajar dan meniti jejak penyair-penyair sebelumnya.

“Puisi-puisi karya orang Sumbar tergolong diakui dan berkualitas di Indonesia,” tambah Dini. 

Bagi panitia, acara ini diselenggarakan guna meningkatkan silaturahmi di antara para penyair, serta kegiatan kesenian dan kebudayaan terus berlanjut. Acara malam itu akan dilanjutkan pada hari berikutnya dalam format workshop penulisan puisi, pada Minggu (6/9) di Galeri Seni Rupa, Taman Budaya, Padang, Sumatera Barat.




*Dilaporkan oleh: Siti Maulida

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Puisi-puisi

Janji Duri Beracun

tempias  tetesan racun bunuh tanah air
racunnya sudah terasa mengalir pelan
sayup-sayup suara kecil  tidak terdengar
harimau tinggal duduk manis menunggu

semuanya tinggal menunggu duri beracun
yang bercampur darah menuju pusatnya
mulut harimau hanya tinggal mengunyah
daging yang sudah termakan janji

semua pasrah menanti masa
kehancuran pusat tubuh tanah air
tidak ada yang berani bergerak mejauh
semua sudah terlajur di ruang sempit gelap
tidak adakah jalan keluar
apakah memang janji itu hanya
pegantar  ke perut panas harimau tua






Tak Kuasa Maju

bibir kering kelu tak bicara
sapaan embun tak bisa menyapa
kantong mata yang kuyu lesu
paku di kayu berwarna biru
pangkal labu terbelah pilu
saku kosong berisi kartu
perut kosong ditambal labu
sakit badan dianggap tabu
lagu lebaran tak ada yang baru
sekarang hidup terasa semu
dipaksa dengan keadaan dunggu
mana bisa kita maju
tidak mengharap waktu
lingkaran bumi dilingkari kelabu
walau laut tampak biru
entah sampai kapan pakai tungku
percuma pura-pura belagu
kondisi tidak bisa dikibul melulu




*oleh: Atikah Hidayati (Sasindo '14) 

 

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Wednesday, September 2, 2015

Selamat Datang Mahasiswa Baru Sastra Indonesia 2015!

(Foto: sesi pengenalan jurusan, diambil dari web sasindo.fib.ac.id.)



Halo, wajah-wajah baru bersahaja.
Halo, semangat-semangat belum terbaca.
Halo, energi-energi yang belum teraba.
Halo, antusiasme yang tak terkata.
Halo, para penerus tradisi membaca.
Halo, para perawat masa depan bangsa.
Halo, para pengarah masa depan sastra.
Halo para pecandu bubuk bahasa.
Halo, untuk semua.

Masuklah melewati pintu rumah ini.
Lihatlah, di dalam sini, apa yang tersedia.
Lihatlah, apa yang bisa saudara gembala.
Pahamlah, sejauh mana kita di sini merawat cita-cita.

Untuk mengatakan bagaimana aroma ini rumah, secara pendek, barangkali tak ada kata lain yang tersedia selain: karya! Yang semua kita ingin lihat di dalam sini adalah karya, bukan tentang siapa atau dari mana saudara. Yang kita semua ingin nilai di dalam sini adalah kesungguhan dan ketangguhan dalam berjalan, bukan tentang dari dan ke laut mana saudara ingin menggelar layar.

Selamat datang. Sekali lagi, selamat datang, Kawan-kawan kami. Selamat bergabung di Sastra Indonesia Unand ini!

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Thursday, June 11, 2015

Sasindo 2013 Persembahkan Enam Pertunjukan (teater) dalam Dua Malam

Foto: Pementasan TPS karya Prel T, sutradara Roby Satria

Beberapa hari lalu, Mahasiswa Sastra Indonesia 2013 Unand mengadakan pertunjukan teater selama dua hari berturut-turut, 3 dan 4 Juni 2015. Pertunjukan tersebut merupakan Tugas Akhir Praktik mata kuliah Telaah Drama yang dipanitiai sekaligus (di)peserta(i) oleh mahasiswa sasindo 2013. Pementasan kali ini menampilkan enam naskah drama yang dipertunjukan oleh enam kelompok. Masing-masing dibagi atas tiga naskah dalam satu hari. Hari pertama berlangsung pertunjukan menampilkan tiga naskah karya Wisran Hadi yaitu, DR. Anda, Nyonya-nyonya, dan Matri Lini. Dan hari kedua mempertunjukan dua naskah terjemahan, Kereta Kencana karya Eugene Ionesco dan Menunggu Godot serta naskah karya dosen pengampu mata kuliah drama TPS (Tempat Pelepasan Suara) karangan Syafril Prel T.
***
Malam itu pertunjukan berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Pertunjukan diawali dengan kepiawaian seorang tokoh Doktor mempresentasikan sebuah topik tentang Minangkabau. Naskah yang bernada satire terlihat dari setiap tuturan tokoh Doktor tentang Minangkabau, baik alam, adat-istiadat maupun elemen kekuasan orang Minangkabau. Lalu tidak kalah satirenya, naskah Nyonya-nyonya hadir merepresentasikan masalah harta warisan di Minangkabau. Tokoh nyonya sebagai tokoh utama dalam naskah harus kehilangan seluruh harta suaminya akibat tuntutan dari para kemenakan suami (datuk) dan campur tangan orang luar (tuan) dalam membujuk Nyonya merelakan satu-persatu harta benda Nyonya hingga harta dalam bentuk tubuhnya sekalian. Naskah ini menjadikan harta warisan (pusaka) objek dari setiap konflik yang dialami oleh tokoh-tokoh. Selesai permasalahan tentang harta pusaka, lalu hadirlah masalah baru yang menimpa Lini, seorang ratu kecantikan di Minangkabau, yang ditinggal kawin oleh calon suaminya. Permasalahan muncul ketika ternyata Lini dinyatakan hamil dan yang menghamilinya tersebut adalah seorang sopir angkot. Pada puncak permasalahan Datuk (mamak Lini) dan ibu Lini (adik datuk) harus meninggalkan rumah pusaka dan seluruh karta warisan akibat tergadai untuk mendapatkan uang mencari bakal suami Lini yang kabur. Beranjak ke malam kedua, dua naskah terjemahan, Menunggu Godot dan Kereta Kencana menghadirkan suasana cerita yang berbeda, jauh dari Minangkabau dan persoalan keminagkabauan. Perbudakan dan nostalgia masa muda menjadi inti cerita dari masing-masing naskah. Penantian akan Godot dibaluri oleh suasana perbudakan di sepanjang adegan. Lalu nostalgia masa muda sepasang kakek-nenek menunggu kereta kencana (yang merupakan representasi dari malaikat maut) atau menunggu kematian setelah hidup lama dan mengalami berbagai persoalan dari masa ke masa. Dan pertunjukan malam itu diakhiri dengan sekulimit masalah di Tempat Pemungutan Suara yang dijadikan sebagai Tempat Pelepasan Suara, dalam konotasai yang berbeda. TPS dijadikan ajang untuk melepaskan segala hasrat dan keluh kesah masyarakat, bahkan tempat melepaskan hawa nafsu sepasang muda.  (*)

Laporan: Rita Deswita

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Tuesday, June 9, 2015

LOMBA BACA PUISI TINGKAT SMA SE-KOTA PADANG

Foto: Youma (SMAN 5 Padang) tengah membacakan puisi

Jumat (29/05/2015), gelanggang Medan Nan Balinduang FIB UNAND disesaki suara-suara orang membaca puisi. Mahasiswa, dosen, dan siswa-siswi dari beberapa SMA di kota Padang, dengan kesenduan masing-masing, bergiliran membacakan puisi waktu itu. Sederet judul-judul puisi dilantangkan ke udara, mulai dari gubahan Muchtar Lubis, Sapardi Djoko Darmono, Sutardji, hingga sekelumit penyair yang tidak begitu akrab terdengar namanya di jagad perpuisian Indonesia. Kurang lebih 40 audiens, hadir di sekeliling gelanggang.
Begitulah suasananya, pada Lomba Baca Puisi Tingkat SMA se-Kota Padang yang diadakan kawan-kawan Sasindo angkatan 2014. Lomba yang digagas atas tuntutan praktik mata kuliah. Lomba yang dikuratori oleh Ibu Soneza Ladyana, Ramoun Apta dan Fajri Chaniago ini, mendapat peserta tidak genap sepuluh siswa. Mereka datang dari beberapa SMA, di antaranya yakni, SMAN 5 dan SMAN 8 Padang. Entah mengapa ada sedikit rasa ganjil, mengingat jumlah SMA di kota Padang terhitung ratusan instansi namun sama sekali tidak terepresentasikan dalam event ini.
Adam, ketua panitia acara, mengaku, lomba ini semata diadakan untuk mengenalkan dan mempopulerkan puisi di kalangan siswa, sekaligus menarik minat siswa terhadap jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dan melihat ke belakang, selama persiapan acara, memang banyak hal yang tidak berjalan dengan baik, tidak terlaksana sesuai rencana panitia. Semula adalah hampir seluruh SMA/SMK telah diundang. Namun apa mau dikata, begitu banyak yang tidak berminat. Malah ada yang dengan terang menolak berpartisipasi dalam acara ini, dan memberi raut muka dingin kepada panitia ketika datang mengundang. Entah sebab alasan apa, puisi seolah tidak mendapat tempat dalam lingkungan siswa/i. “Malah ada sekolah yang menyuruh pergi, ketika kami datang,” begitu celoteh adam saat diwawancarai. Barangkali, ah, kepala sekolah ingin siswa-siswinya fokus dengan ilmu eksak yang begitu kerennya kini atau ilmu sosial yang terpastikan. Dan berpuisi bukanlah kewajiban dalam belajar hari ini.
Lain hal dengan sekolah Welbi, siswa SMAN 5 Padang. Setelah turun dari panggung dan mempersembahkan pembacaan puisinya di hadapan juri, mengaku mendapat dukungan sangat baik dari kepala sekolah. Malah, “kami dapat uang transportasi dari beliau,” ungkap Welbi. Dia sangat senang dengan kesempatan ini. Dia mengaku menyukai puisi, namun tidak berencana kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Minatnya ada di arsitektur. Dia orang yang penasarann, sepertinya, sebab hadir di lomba cendrung untuk mencari pengalaman. Pengakuannya, baru itulah kali pertama dia ikut lomba baca puisi, dan merasa kikuk saat baru berada di atas panggung—sebelum mulai melantunkan kalimat puisi yang kemudian, perlahan-lahan, membawanya rileks dan senang.



Dok Sasindo '14: Para peserta Lomba Baca Puisi Tingkat SMA Se-kota Padang, 2015.
Meri, gadis kecil berwajah gugup. Dia datang dari SMAN 8 Padang dengan beberapa orang teman. Setelah selesai membaca puisi dan memberi salam pada audiens dan para juri, kembali dapat jatah wawancara. Dengan kegugupan yang tidak dibuat-buat, dia mengaku sangat gugup  mulanya, namun (sama seperti Welbi) setelah mulai membaca puisi, semuanya terasa menyenangkan. Waktu ditanya mengenai dukungan dari pihak sekolah, Meri mengaku datang tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Yang membuatnya ikut lomba hanya perasaan suka. Bagaimanapun, meri adalah gadis yang sangat suka puisi. Dia suka membaca sastra sejak lama. “Meri ingin masuk jurusan Sastra Indonesia UNAND kelak,” ucapnya dengan sumringah, pipinya masih sedikit merah jambu.
Di akhir acara, Adam mengungkapkan rasa senangnya atas penyelenggaraan ini. Meskipun belum sempurna, belum banyak sekolah yang terlibat, ia puas dan berharap bisa mengadakan acara selanjutnya dengan mengambil peserta tingkat Sumatera Barat. Meskipun pada kenyataannya, dari ratusan sekolah di kota Padang, ternyata hanya beberapa di antaranya yang tertarik dan menyambut sosialisasi panitia. “Karena ini acara pertama, kami sangat bangga dan akan terus belajar lebih baik kedepannya. Kami ingin mengajak siswa SMA untuk masuk ke jurusan Sastra Indonesia,” adam bertutur bahagia. Semoga saja!
Lomba Baca Puisi Tingkat SMA Se-Kota Padang berakhir pukul 15.00 WIB. Keluar sebagai pemenang I, yakni Youma Amanda (SMAN 5 Padang). Sementara pemenang kedua dan ketiga diraih Atika (SMAN 8) dan Welbi (SMAN 5).


Laporan: Infokom HMJ Sasindo Unand

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Sunday, May 10, 2015

Sekadar Catatan atas Acara "Hari Puisi"

Puisi dan Kesunyian yang Tajam





Jumat siang, 8 Mei 2015, pukul 14.00 WIB. Sekitar tujuh orang laki-laki duduk di selingkar panggung dan tribun Medan Nan Balinduang FIB-Unand. Waktu istirahat siang baru saja selesai. Kini tiba waktu  mengaktifkan soundsystem, menyetel bunyi, dan menyambut kedatangan tamu, baik yang datang dari luar FIB, maupun dari dalamnya. Itulah jadwal yang telah direncanakan sebagai waktu pembuka acara “Hari Puisi” yang diinisiasi oleh beberapa mahasiswa Sasindo, sebagai upaya penghadiran bentuk baru bagi kegiatan perayaan “Hari Chairil” yang rutin dilakukan HMJ di tahun-tahun lewat pada 28 April 2015. Dan sebuah kebahagiaan hadir, sebab yang telah duduk dan sebagian lagi mengecek microfon di sekitar Medan Nan Balinduang saat itu tidak saja mahasiswa Sastra Indonesia, melainkan juga kawan-kawan mahasiswa jurusan ‘sebelah’ di FIB. Kawan-kawan ini hadir dan membantu mempersiapkan yang perlu, barangkali dalam upaya mempertegas solidaritas antar-jurusan di FIB.
Saya hadir di situ (sebagai penggagas sekaligus penanggungjawab acara), memerhatikan langit terus mendung dan merasakan gelagat acara akan terlambat mulai, sebab belum ada tanda-tanda kedatangan orang-orang yang telah diundang, (kecuali hanya dua orang kawan dari UNP). Maka jadilah saya dan kawan-kawan itu terus mengutak-atik gitar, microfon, dan membetulkan dekorasi yang sedikit tidak pas di mata.
Hingga masuk pukul 14.30 WIB, dan keadaan masih serupa. Saya dan kawan-kawan berinisiatif memulai, terserah berapa mata yang akan memandang. Seorang kawan segera turun ke lingkungan PKM FIB (sekitaran Kafe Uniang Kamek), menginformasikan pada kawan-kawan di sana bahwa acara akan dimulai dengan nada ajakan. Seorang lagi kawan mencoba mengajak satu-dua alumni yang datang, untuk merapat. Dalam waktu bersamaan, saya memberi tahu Pembina HMJ, dan menemui Ketua jurusan untuk meminta beliau membuka acara. Jadilah acara dimulai, dengan beberapa mahasiswa dan alumni yang telah duduk di tribun, dan satu-dua tampak berdatangan. Dan setelah MC, saya adalah yang pertama tegak di panggung sebagai penanggungjawab acara, mewakili panitia yang telah ditunjuk namun banyak belum datang, menyampaikan sedikit hal menyangkut konsep acara, landasan pemilihan tema “Puisi dalam Zaman”.
Acara berlanjut dengan sepatah kata sekaligus pembacaan puisi pertama oleh bapak Ketua jurusan. Lewat tuturan singkat beliau, saya dan kawan-kawan mengiyakan, bahwa tidak banyak yang datang dan betapa itu belum sesuai dengan yang diharapkan—yang kemudian mengindikasikan betapa acara belum terorganisir dengan baik. Waktu itu, saya pribadi mengakuinya, dan menjadi resah seketika. Syukur, pembacaan puisi “Huesca” dari Bapak Gusdi cukup bertenaga untuk meredam kegelisahan saya itu. Setelah beliau turun panggung, saya melihat lagi ke sekeliling. Dan benarlah, betapa sepinya acara itu. Barangkali “Hari Puisi” ini hanya disaksikan oleh kurang dari dua puluh orang. Gelisah saya nyatanya tak  hilang.
Saya mencoba mengingat-ingat lagi ke belakang. Ke masa persiapan “Hari Puisi” sejak dua minggu sebelumnya. Dengan ruang gerak tertentu, saya sepenuhnya telah menunjuk kawan-kawan mahasiswa Sasindo angkatan 2014 untuk melaksanakan acara. Sengaja saya limpahkan kepada kawan-kawan itu, demi terbiasanya mereka dengan hal-hal yang berkaitan dengan sebuah acara (konsep, teknis). Namun kata ‘sepenuhnya’ di atas akhirnya tidaklah terealisasi. Saya jadi turut serta mengonsep, turut serta mencari gambaran bentuk, dan teknis-teknis lainnya. Bahkan di H-1 acara, sungguh, saya terlalu mendominasi dalam proses penyiapannya. Saya berpikir tidak ada masalah berarti, terlebih menyangkut sosialisasi kegiatan. Publikasi sudah berjalan, dan barangkali hanya segelintir (kalaupun ada) kawan-kawan Sasindo yang tidak mendapatkan informasi acara. Maka tinggal menunggu hari berganti dan acara akan berjalan dengan ‘aman’.
Jumat siang ternyata berwujud lain. Sesuatu yang saya anggap sebelumnya tidak jadi masalah kini tampak sebagai sesuatu yang begitu riskan. Saya tahu bahwa sebagian panitia sedang ada jadwal survei lapangan untuk mata kuliah. Namun saya tidak mempermasalahka itu karena saya pikir itu hanya beberapa orang, dan tidak terlalu banyak tenaga yang dibutuhkan selama acara. Tentu yang paling dinanti adalah kehadiran kawan-kawan 2014 yang lainya, dan keseluruhan mahasiswa Sasindo untuk meramaikan, dan kalau perlu ikut tampil membaca puisi. Namun kehadiran inilah yang terasa jauh di mata, waktu itu. Saya terus menunggu, sampainya serombongan kawan mahasiswa yang jadwal kuliahnya bersedia dipindahkan ke lokasi acara. Juga sembari menata-membongkar dan menata-membongkar kembali daftar penampilan yang memang juga belum terorganisir dengan maksimal. Jadilah acara diisi oleh sebagian penampilan terencana dan sebagian penampilan spontan.
Saya menyorot persoalan ini bukan untuk mengeluhkan apa atau siapa. Sesungguhnya ini sengaja saya sisipkan demi mencoba mengkontruksi pemikiran saya dan barangkali juga kawan-kawan lain, mengenai kurang dan lebih, tepat atau tidak sesuainya kegiatan-kegiatan HMJ Sasindo. Maksudnya di sini, saya lebih ingin melihat realitas secara umum dan hari ini di Sasindo, terutama menyangkut ‘puisi-berpuisi’. Melihat tidak banyak bertambahnya audiens yang hadir selama satu jam acara berlangsung, maka evaluasi seketika perlu dilakukan, setidaknya dalam diri pribadi. Sebuah pertanyaan awal mengawang: mengapa kali ini begitu sunyi? Kenapa acara ini tidak bisa ramai, setidaknya oleh mahasiswa Sasindo. Dan jawaban awal saya: karena acara ini belum bisa menarik minat banyak orang. Lantas saya mesti bertanya: jika tidak menarik, seperti apakah acara mesti dikemas hingga menjadi menarik dan menggugah minat semua orang? Selanjutnya, saya tidak bisa membendung tanya, perlukah mahasiswa Sasindo ‘dibuatkan’ dulu acara menarik untuk mereka, baru kemudian mau datang dan berpartisipasi? Dan pertanyaan penutup saya, seperti apakah acara/ kegiatan yang kita minati sesungguhnya?
Saya teringat beberapa hari yang lalu, ketika mahasiswa FISIP mengadakan acara musik di DPR (depan FIB-FISIP) Unand. Pelaksananya adalah mahasiswa FISIP angkatan 2014, sebagai bentuk kesolitan bersama per-angkatan, dengan semboyan acara “Orange-kan Senja”. Sungguh sebuah acara yang meriah, terbukti dengan berjubelnya hadirin hingga memasuki waktu Magrib. Sepanjang acara itu, keriuhan tercipta, lewat penampilan-penampilan musik oleh pemusik, grup-grup musik yang ada di sekitar dan di luar Unand. Semua hadirin merasa rileks, dan bisa berdiri dengan sumringah, menikmati keramaian, sambil menyimak ritme musik. Tentu saja, saya dan kawan-kawan di Sasindo turut meramaikannya.
Kini berbalik ke “Hari Puisi”. Sungguh serasa sedih untuk dibandingkan dengan kegiatan FISIP itu. Meskipun pembandingan semacam itu sebenarnya tidaklah begitu perlu. Hari Puisi sama sekali berbeda dalam hal konsep. Di sini tidak ada musik-meriah, sebagaimana di DPR itu. Tidak ada semboyan tertentu, tidak ada pula daftar aksi panggung tertentu. Sokongan utama acara ini adalah ide-nya. Termakhtub dalam tema, dengan maksud, melihat dan membicarakan puisi, menyangkut posisi atau ruang geraknya dalam kehidupan hari ini. Itulah ide acara, dan penampilan-penampilan (meski tidak semua), diarahkan untuk menampilkan wajah puisi itu, baik lewat musik, orasi spontan, maupun pembacaan puisi. Juga, acara ini sedianya adalah usaha menghadirkan moment-moment tertentu bagi mahasiswa Sasindo dan FIB secara umum untuk merasa sangat dekat dengan puisi. Dari ide ini, tampak acara tidak berbentuk selebrasi yang meriah, teriakan-teriakan kegembiraan yang berlebihan, ataupun gerak tubuh yang kesenangan dengan getar musik. Acara ini sejatinya hening, namun bukan sunyi. Hening di sini bermakna kekhsyukan dalam melihat, membaca, dan berpikir tentang eksistensi puisi, yang sedapat mungkin pada akhirnya membawa kita melihat pada sisi kedirian kita. (maafkan untuk bahasa yang agak aneh ini).
Sayangnya, belum begitu ramai yang terlibat dalam “Hari Puisi” kali ini. Dan barangkali ini memberi jalan evealuasi lanjut bagi saya, dan kawan-kawan di HMJ. Barangkali ada yang salah dalam persiapan, atau ada yang belum maksimal dikerjakan. Entahlah. Namun menurut hemat saya, informasi hari ini sangat lancar penyebarannya dan nyaris tidak masuk akal jika itu menjadi kendala utama dalam kekurang-maksimalan acara. Setidaknya bagi kawan-kawan di Sasindo sendiri. Bahkan sebelum muncul era digital ini, orang-orang bisa berkomunikasi dan saling berbagi informasi dengan memadai. Dan itu untuk sementara membawa saya pada asumsi yang ragu-ragu memunculkan diri. Asumsi yang hadir sekaligus menjadi pangkal kegelisahan saya adalah, mungkin saja puisi terlihat kurang efisien dibicarakan hari ini, dibandingkan kemelut politik, isu olahraga, inovasi digital, dan lain sebagainya. (maafkan juga untuk asumsi ini).
Pukul 17.00 WIB, setelah satu jam sebelumnya puisi ‘diorasikan’ oleh salah seorang redaktur sastra yang diundang, “Hari Puisi” segera selasai. Dan kawan-kawan yang jumlahnya tidak banyak itu bersepakat melepas sunyi dan rasa dingin senja dengan sedikit sentuhan reagee. Dan tiba pula waktu bagi panitia berpikir, berapa banyak teknis yang harus dibenahi? (*)



*Andesta Herli

By HMJ Sasindo Unand with 2 comments

Sunday, May 3, 2015

PSIKIS NAYLA; SEORANG PENULIS DALAM CERPEN KOSONG KARYA DJENAR

Gambar: Google

Nayla merupakan tokoh utama dalam cerpen Kosong, yang dikarang oleh Djenar Maesa Ayu. Dalam kesehariannya, Nayla lebih suka berada di tempat yang tenang. Biasanya Nayla duduk di warung kopi yang memiliki suasana nyaman, tidak hiruk-pikuk seperti warung-warung lainnya. Di warung tersebut, Nayla hanya ditemani oleh segelas kopi dan lembaran kosong. Beberapa batang rokok pun tak luput dari hisapannya, hingga asbak yang ada di atas mejanya telah terisi penuh oleh abu-abu rokok. Nayla baru beranjak dari warung itu ketika malam hari, saat warung itu mau tutup.
            Djenar menjadikan Nayla sebagai tokoh yang berprofesi sebagai seorang penulis. Hal ini tampak pada cerpen yang menceritakan bahwa, Nayla lebih suka menyendiri dengan lembaran kertasnya, dari pada bergabung dengan sahabat-sahabatnya. Dia memiliki ketakutan, sikap yang ragu-ragu, serta jenuh dalam dirinya. Oleh karena itu, dia memilih untuk menyendiri di tempat yang tenang dan nyaman. Di tempat seperti itu lah, dia bisa berfikir dan memecahkan masalah dalam dirinya tadi. Sikapnya yang memilih untuk tidak berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, membuat sahabat-sahabatnya bertanya. Mengapa Nayla suka mengunjungi kedai kopi itu? Jawaban yang diberikan Nayla adalah, karena suasananya enak untuk menulis. Psikologis Nayla dan sahabat-sahabatnya ini tampak jelas berbeda.
            Manusia dalam dunia psikologi dibedakan menjadi dua, pertama manusia yang memiliki kepribadian yang terbuka, yang kedua manusia yang memiliki kepribadian tertutup. Seseorang yang memiliki kepribadian terbuka, sangat mudah untuk membagi masalahnya dengan orang disekitarnya, seperti dengan keluarga dan sahabatnya. Sedangkan seorang yang memiliki kepribadian tertutup, sangat sulit untuk membagi masalahnya dengan orang-orang disekitarnya, dan orang ini lebih suka memendam masalahnya sendiri. Jika dilihat pada Nayla, dia termasuk orang yang memiliki kepribadian yang tertutup. Karena kebiasaannya yang memilih untuk menyendiri di warung kopi, dari pada berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
Seorang manusia yang hidup dan tinggal di antara manusia lainnya, suatu saat akan merasakan kehidupan yang kosong, hampa, dan sunyi. Manusia ini akan mengasingkan dirinya sendiri di suatu tempat. Walaupun di sekitarnya ada saudara dan temannya, tempat dia berbagi duka maupun suka di kehidupannya. Selama pengasingan dirinya ini, dia akan merasa, berfikir, dan merenungkan kehidupannya. Dia merasakan betul kesunyian-kesunyian yang mengisi hari-harinya. Dia berfikir tentang, bagaimana sesungguhnya potret kehidupan yang dia jalani. Dia juga merenungkan, mengapa dia merasa kekosongan dalam hidupnya. Walaupun begitu, dia tetap berusaha untuk mengisi kekosongan-kekosongan kehidupannya itu. Dia akan mengisi kesunyiannya dengan berbagai hal yang bisa membuatnya merasa lebih hidup. Kadang kala dia berfikir, tidak mungkin dia lakukan semua ini, karena itu tidak akan berhasil mengisi hari-harinya.
Cerpen yang berjudul Kosong ini, menceritakan tentang sorang pengarang, yang sulit untuk berbagi pikiran dengan orang lain. Dia sulit membagi apa yang dipikirkannya dengan orang lain, walaupun dia bisa membaginya, orang lain itu yang justru sulit untuk memahami apa yang dimaksudkannya. Oleh karena itu, dia lebih suka menuangkan apa yang dipikirkannya itu ke dalam sebuah kertas, yang berupa tulisan. Dengan begitu, dia merasa terbebas dari komentar-komentar orang lain terhadap apa yang dipikirkannya. Dengan tulisan itu pun, orang lain akan mudah memahami apa yang dipikirkannya. Begitulah gambaran singkat yang diceritakan Djenar dalam cerpen Kosong.
Djenar Maesa Ayu merupakan seorang pengarang perempuan Indonesia, yang lahir pada tanggal 14 Januari 1973 di Jakarta. Ia telah menerbitkan empat kumpulan cerpen yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet!, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Cerita Pendenk Tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, dan sebuah novel yang berjudul Nayla. Kumpulan cerpen T(w)itit! Adalah buku keenam Djenar. Selain menulis, Djenar juga menyutradarai film Mereka Bilang, Saya Monyet! (2008) dan SAIA (2009). Ia mendapat Piala Citra dari kategori Skenario Adaptasi Terbaik bersama Indra Herlambang, dan sebagai Sutradara Baru Terbaik pada Festival Film Indonesia 2009.
Dalam cerpen Kosong ini, Djenar menggambarkan bagaimana diri seorang pengarang melalui tokoh Nayla. Dia (Djenar) menempatkan pengarang dalam posisi yang memiliki kperibadian tertutup, seperti yang telah dibahas di awal tadi. Memang kebanyakan atau rata-rata dari pengarang, memiliki kepribadian tertutup. Mereka cendrung memilih kehidupan yang nyaman dan tenang. Karena mereka membutuhkan ketenangan itu, untuk menghasilkan sebuah karangan yang bisa diterima di dalam masyarakat. Namun, ada kalanya seorang pengarang membutuhkan tempat untuk berdiskusi. Agar wawasan yang didapatnya lebih banya, dan mudah menemukan ide-ide baru yang akan dituliskan.
Diskusi memang sangat membantu dalam kepegarangan. Tetapi dalam cerpen ini, Djenar lebih menekankan pada kesendirian. Kesendirian yang lambat laun akan memunculkan ide-ide untuk dituliskan, dan menjadi sebuah tulisan walaupun tanpa melakukan diskusi dengan orang-orang disekitar. Tetapi, walaupun begitu, kita perlu wawasan dan pengetahuan yang tinggi agar bisa menghasilkan sebuah tulisan. Kita perlu banyak membaca, agar ketika diri kita sendiri, kita dengan mudah menemukan ide, dan jarang menemukan masalah atau kendala dalam menuliskan tulisan.

Terbit di Singgalang Minggu, 21 Desember 2014
Penulis: Weni Gusnita, Mahasiswi Sastra Indonesia Unand
Anggota Tubuh Jendela

By HMJ Sasindo Unand with No comments

Sunday, April 12, 2015

Sehimpun Kisah Tentang Perempuan - Resensi oleh Khairy Raif Thaib

DATA BUKU

Judul                  : Satu Hari yang Ingin Kuingat
Penulis               : Yetti. AKA
Penerbit             : UNSA PRES
Cetakan             : Pertama, Agustus, 2014
Tebal Halaman  : 110 halaman
Peresensi           : Khairy Ra’if Thaib




Yetti A.KA merupakan salah seorang penulis cerita pendek produktif yang dimiliki Indonesia saat ini. Yetti A.KA telah banyak menghasilkan cerpen yang dipublikasikan di media masa lokal, maupun nasional. Ia juga telah menerbitkan lima kumpulan cerpen sejak tahun 2004. Kumpulan cerpennya yang berjudul Kinoli masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2013. Kumpulan cerpen Satu Hari yang Ingin Kuingat (UNSA PRES, Agustus 2014) ini tak jauh beda dari kumpulan cerpen yang pernah ditulis Yetti sebelumnya, yakninya cerita yang menjadikan perempuan sebagai objek yang dieksplorasi. Membaca buku yang setebal 101 halaman ini kita dihadapkan dengan persoalan hidup perempuan. Perempuan-perempuan yang hidupnya tidak bahagia, perempuan yang selalu tertipu oleh senyum manis laki-laki, perempuan yang selalu ditinggalkan, dan perempuan yang teraniaya.

Dalam cerpen Kupu-kupu Tanalia, Yetti menggambarkan bagaimana keinginan Tanalia, seorang anak kelas lima SD untuk memelihara kupu-kupu dalam kamarnya. Tapi Masya, ibunya malah melarang. Padahal ia sangat suka kupu-kupu dan baginya kupu-kupu adalah teman yang baik. Cerpen ini bukan hanya berbicara masalah kupu-kupu. Tapi bagaimana cara Yetti mengekspos keluguan seorang anak kecil sebagai konflik cerita. Masya sebenarnya tidaklah melarang Tanalia memelihara kupu-kupu hanya karena ia tak suka kupu-kupu. Melainkan lebih karena masa lalunya. Seorang lelaki penyuka kupu-kupu yang mengaku datang dari hutan menitipkan benih kupu-kupu di rahim Masya. Dan kupu-kupu itu terlahir sebagai Tanalia. Perempuan di sini ialah perempuan yang ditinggalkan, sekaligus disakiti. Eksploitasi tentang kesakitan perempuan juga terdapat dalam cerpen Ia yang Menyimpan Api di Dadanya. Ketika berumur lima belas tahun, tubuh Maura sering digerayangi oleh ayah dan kakak laki-lakinya. Ketika itu Maura tidak dapat melawan. Ia takut. Waktu itu pula ia sering dipukul oleh ibunya dengan tangkai sapu karena ia sering memecahkan gelas. Setelah ia menikah ia malah diperlakukan tidak baik oleh suaminya: diperkosa, dipukul, dan dituduh yang tidak-tidak. 

Berbeda lagi dengan cerpen Satu Hari yang Ingin Kuingat, seorang perempuan ditinggalkan kekasihnya hanya karena perempuan itu meminum jus melon. Cerita ini disampaikan Yetti dengan penuh teka-teki sehingga membuat pembaca selalu menanti kalimat selanjutnya. Sedangkan pada cerpen Hati Milia, Yetti bercerita tentang bagaimana ketidakbahagiaan Milia, seorang istri yang suaminya terseret kasus korupsi negeri ini. Wajah suami Milia sering muncul di televisi dan ini membuat Milia harus memutus kabel televisinya supaya tidak bisa ditonton oleh anak-anaknya. Ia juga tidak bisa keluar rumah dan anak-anaknya tidak bisa ke sekolah. Dan perempuan di sini tidak hanya berkutat dengan masalah ketidakbahagiaan dirinya, tapi juga masalah malu. (*) *Ditulis oleh : 

Tulisan ini pernah terbit di Koran Singgalang Minggu, Desember 2014.

By HMJ Sasindo Unand with No comments