Wednesday, April 8, 2015

Pra-Makalah Pekan Kritik Sastra 2 - Alizar Tanjung

KEMERDEKAAN AMBIGUITAS DAN SIMBOL CINTA KAORU
 ALIZAR TANJUNG


 *Makalah utuh akan disampaikan dalam Seminar Kritik Sastra tanggal 14 April di Ruang Seminar FIB, dalam agenda Pekan Kritik Sastra HMJ Sastra Indonesia Unand.




Membaca puisi, seperti membaca tubuh sendiri. Kita menguliti satu persatu tubuh kita. Tubuh yang terdiri dari darah, daging, tulang. Puisi yang sudah menjadi darah, daging, tulang kembali diungkai satu persatu. Di sisi lain membaca puisi seperti membuka isi kepala yang berisi tentang filosofi, perenungan, persepsi, pemikiran, pengalaman hidup. Berdasarkan pengalaman hidup, ada yang terperangkap dalam masa lalu, ada yang terperangkap dalam masa depan yang ambigiutas, ada yang terperangkap dalam ideologi dan modernisme.

Berbeda halnya dengan membaca kumpulan puisi Ziarah Kemerdekaan karya Muhammad Ibrahim Ilyas, Ziarah Kemerdekaan lepas dari keterkurungan pesimistis, dengan adanya puisi terakhir Surat Lain Tahun. Puisi-puisi yang terhimpun dalam buku puisi disusun secara runut berdasarkan tahun. Puisi yang dihimpun berdasarkan urutan tahun penulisan, seiringan jalan dengan asam garam kehidupan yang dialami oleh sang penyair. Selagi penyair itu hidup, jalan pikiran selalu berkembang.

Puisi-puisi yang ditampilkan dari awal, puisi-puisi yang sarat dengan ziarah: ziarah pribadi, ziarah keluarga, ziara sebagai makhluk negara, ziarah kemerdekaan. Sedangkan ziarah itu sendiri mengandung makna mengunjungi segala sesuatu yang dianggap sudah pergi dan tidak akan kembali. Ada makna kiasan bahwa yang tinggal hanyalah kenangan dan angan-angan masa lalu. Di sisi lain ziarah berarti belajar mengambil manfaat. Ketiadaan menjadi pelajaran berharga. Ketiadaan menjadi titik nol menuju ada.

Urutan tahun menjadi perangkap bagi pembaca puisi. Sebab itu sebagai pembaca, saya membaca puisi ini secara terbalik, membaca mulai dari puisi yang terakhir. Pada puisi Surat Lain Tahun, puisi terakhir dalam buku ini, ziarah menjadi titik nol menuju keberadaan kehidupan privasi. Puisi dalam puisi ini tidak lagi menjadi tubuh kasar dan tubuh halus yang harus diziarahi (dalam arti kata sesuatu yang tidak mungkin diperbaiki).

By HMJ Sasindo Unand with No comments

0 komentar:

Post a Comment